images (2)

Inikah Jalanku?

 

Biar jatuh ku bangkit semula

Biar lemas ku renangi jiwa

Biar payah ku terus arungi

 

            Bumi yang luas dengan hamparan keindahan yang tiada tara dan manusia dengan seluruh kesempurnaan nya. Kini ku memilih duduk, berfikir, merenung, dan mulai menggerakkan jari-jari yang telah lama tak seperti ini.

            Detik-detik waktu ini kian berlalu, jari-jariku pun tumbuh semakin dewasa saja. Namun sepertinya jiwaku belum dewasa. Orang lain menganggapku dewasa. Yah, Dewasa. It’s what you know. Renungan itu kembali hadir. Begitu banyak sekali kekuranganku yang Engkau tutupi ya Robb. ingin sekali rasanya aku berteriak kepada semua orang bahwa aku ini hanyalah manusia yang “HINA” tanpaMu. Namun suaraku adalah Aurat. Begitu sayangnya Engkau padaku.

            Aibku Engkau tutupi, dosaku Engkau ampuni, hidupku Engkau penuhi, nafasku Engkau beri, makanku Engkau cukupi. Ya Robbi, apalah arti ibadah ku selama ini. Sedang Engkau mengasihiku dari aku lahir ke bumi ini sampai aku bisa seperti ini?.

            Bahkan dengan semua nikmat itu, kadang saja aku masih enggan bersyukur. Aku masih menginginkan ini itu dan lainnya. Keduniawian ya Robb. Padahal Engkau telah janjikan Syurga untukku, jika aku bersyukur.

            Kini, aku dihadiahkan ujian indah olehMu. Hadirnya sosok pemberani yang berniat baik. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya tanpa landasanMu ya Robb. Sedang Engkau adalah pencemburu hebat yang ku tahu. Engkau memasang-masangkan kami sesuai dengan fitrah kami. Naluri ku memlilihMu.

            Aku ingin seperti Robi’atul Adwiyah, yang mengabdikan diri sepenuhnya kepadaMu. Tanpa ku mencintai sosok manusia di dunia. Menghabiskan usia didunia hanya untukMu, sepenuhnya. Tanpa ku memikirkan diriku, sekalipun. Aku ingin hidupku ini hanya untukMu. Aku serahkan seluruh raga dan jiwaku ini untukMu ya Robb.

            Langkah tanganku terhenti di kalimat ini, ragapun menunduk pilu dan bulir-bulir air matapun menetes menyentuh keyboard. Bagaimana mungkin aku bisa? Apa yang harus aku lakukan. mencintaiMu pun rasanya sangat jauh dari kata sempurna. Bagaimana mungkin aku akan menghadirkan sosok itu dan mulai mencintainya. Bagaimana bisa aku mencintainya dan mencintaiMu juga. Ah, aku ingin mencintaiMu saja ya Rabb, SATU hanya ENGKAU.

            Oh Robb, apakah ini yang disebut cinta sejati?

            Cinta yang hanya aku berikan kepadaMu saja. Biarlah Engkau mencintai Kekasih Engkau Muhammad Saw, Musa As dan hamba-hamba yang jua mencintaiMu, Tuhannya. Aku tak peduli seberapa banyak makhluk yang mencintaiMu dengan tulus. Aku hanya ingin menyerahkan diriku untukMu dan aku yakin Engkau tahu akan hal ini. Betapa cintaNya aku padaMu. Aku hanya berharap, aku bisa bertemu Engkau, hanya itu.

 

2014-01-23 11.48.20

“Wisata Horor”

(sambil mendengarkan backsound nightmare side…)

            Setelah traveling itu aku mendapat ilham untuk meneruskann salah satu hobiku yaitu menulis. Dan sepertinya ini aliran baru tulisanku. Horor, ya. Sangat menarik.

            Cerita ini, diambil dari kisah nyata. Perjalananku selama di garut. Tepatnya, kecamatan banyuresmi menuju talaga bodas yang katanya berjarak kurang lebih 15 km. Ternyata itu semua berasa bohong banget. Perjalanan yang aku lewati bersama rekanku nenden. Memakan waktu sekitar 3 jam. Percaya?. Karena aku yang nyetir, Aku terus memperhatikan spidometer yang belakangan ini baru hidup lagi. Dan aku berkata-kata dalam hati “sepertinya ini jalan sudah lebih dari 15 km deh, udah jauh banget”.

            Keadaan cuaca dalam perjalanan menuju talaga bodas pun semakin parah. Entah berapa celcius lebih dingin dari cuaca daratan garut yang katanya saja sudah dingin. Kami berbincang selama perjalanan itu. Dan kami rasa kami sudah kehabisan hal perbincangan karena sudah saking lamanya kami dalam perjalanan tersebut. Sambil sesekali kami memperhatikan pemandangan.

Jalan menuju talaga bodas begitu menanjak. Tidak ada jalan datar untuk menuju kesana. Jadi kalau kesana pake motor, jangan pernah berhenti nge-gas dan jangan lupa dengan rem yang pakem. Belum lagi dengan tipe jalan yang ber-variasi. Beberapa km pertama jalan nampak sangat mulus. Lanjut beberapa km berikutnya sudah nampak beberapa lubang-lubang yang sepertinya bekas tapak truk ataupun mobil besar. Beberapa km berikutnya lagi tak ada aspal, tak ada lubang. Yang ada hanya batu-batuan besar. Yang jikalau kami tidak berhati-hati sekali. Ban motor kami akan robek dan terbeset-beset. Bayangkan? that’s memacu adrenalin banget bro !

            Semakin menanjak keatas semakin jarak pandangku untuk terus melaju juga terbatas. karena Kabut yang tebal dan sangat lebat. bahkan sampai membuahkan setitik-dua titik air yang jatuh.

            Aku-pun memutuskan untuk mengenakan jas hujan, karena layaknya seperti hujan es. Dan angin yang sangat dingin menghembus menepuk punggungku. Sangat dingin. Tangan terlihat biru, kaku dan basah. Aku tidak tahu berapa derajatkah cuaca dalam kondisi seperti  ini. Tapi yang pasti ini lebih diatas 15 derajat.

            Kami berusaha menutupi rasa dingin dengan berbicara, dan melihat-lihat pemandangan yang tidak biasa kami lihat. Ada jurang, ada rumah terselimuti kabut tak berpenguni, ada anjing kemudian menghilang, ada kebun-kebun rindang yang terkena badai kabut. Semua itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Dan membuat kami didalam hati menjerit “kita kan mau wisata, kok jadi ketakutan begini ya”.

            Kami hampir putus asa, karena jalan yang kami tempuh pun tak sampai-sampai. Motor sudah haus. Kami pun haus minuman hangat. Namun dengan begitu tetap saja aku terus menge-gas dengan stanbay 30-40 km/jam.

Sekelibat pandangan, aku menemukan kubuk-kubuk yang kosong. ada juga kubuk toko yang buka dan aku bisa lihat sachet-sachet minuman yang sepertinya terasa nikmat jika diseduh oleh air panas. Namun, timbul pertanyaan besar “penjual nya mana ya?” seketika kabut menutupi kubuk dengan tebalnya. Dan angin dingin nan beku mengibasi daku. Aku pun berpaling keheranan.

            Aku berhenti, karena ada palang hijau menandakan petunjuk. Dan kami akan sampai. Kami berhenti di pertigaan lalu mengambil arah lurus untuk sampai talaga bodas. Kami pun semangat karena sebentar lagi kami akan sampai. Senyum lebar dalam hati yang berbisik “semoga tak terjadi apa-apa ketika sampai disana”.

            Tak disangka ternyata perjalanan masih sangat panjang. Dan sepertinya kami mulai memasuki hutan. Hutan? Ya, mungkin. Karena kami tak melihat apapun dan seorang pun disini kecuali Pepohonan besar lebat tinggi dan kami. Urat nadi mulai kencang. Mata mulai membelalak. Dan jantung mulai berdebar keras dan cepat. Menandakan ada sesuatu yang tidak lazim.

            Masih dalam perjalanan, kami menemukan jalan yang pelok. Tertampak bekas tapak truk. Nenden pun turun dan mengecek apakah bisa dilewati atau tidak. Dan aku berusaha melewati lintasan nan lembek itu. Dan akhirnya berhasil.

            Aku kira setelah dari jalan pelok itu akan segera sampai. Namun, jalan yang kami lewati masih jauh lagi ternyata. Aku terus menarik gas dan terus menanjak penuh harapan bayangan akan talaga bodas yang indah.

            Aku dan nenden semakin merasa keheranan dan aneh. Mengapa tak kunjung sampai perjalanan kita ini. Dan yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan kabut tebal yang menghalangi pandangku.

            Kemudian, kami sampai pada titik jenuh. Kami lelah, terlalu jauh perjalanan kami ini. Kami merasa melewati satu gunung besar. Berkelok-kelok pohon besar nan berkabut tebal berbising suara seperti serigala meraung-raung. Menjadikan aku dan nenden berfikir keras dan bulu-bulu tangan berdiri seketika.

            Kami berhenti pada palang bertuliskan hastag “#TLG2”. “huhh, Alhamdulillah sampai”. Kami langsung memutuskan untuk berdiri dari duduk kami selama itu. Kami pun mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar pemandangan disana. Namun yang menjadi keanehan, kami melihat portal kuning menghalangi jalan kami masuk. Kami tidak bisa melihat talaga bodas yang sesuai dengan ekspetasi kami.

            Beberapa menit kemudian, kami merasakan ada hal yang aneh. Angin yang semakin berhembus kencang menandakan ada yang tidak beres. Dengan keberadaan kami disini. Dan tanpa pikir panjang, nenden berkata “sar, pulang yu sar”. Dan tanpa berdiam dahulu akupun menuruti perkataannya dan membelokkan motor kemudian mulai turun.

            Kali ini Nenden mencoba membawa motor. karena aku menampakan wajah lelah serta terlihat biru pada tanganku karena dingin.

Dalam perjalanan pulang, kami tiba-tiba diiringi oleh dua motor yang dinaiki orang bertopi seperti Pak tani dan Bu tani. Namun mereka tidak melengokkan muka sekalipun kearah kami. Padahal kami sangat berisik, kami berbincang sepanjang perjalanan, tertawa bahkan kami menyalakan music dengan volume maksimal saking merinding dan takutnya. Berusaha untuk mencairkan suasana meskipun cuaca itu semakin membekukan.

            Kepuasan itu sepertinya tidak kami dapatkan, namun kami bersyukur bahwa yang namanya kesabaran, keyakinan, keberanian dan keteguhan itu harus kami pegang dimanapun kami berada.

            Dari jauh nampak seorang Pak tani berdiri dan motor yang ter-standar miring. Ketika kami berjalan terus mendekat semakin mendekat, kabut tebal menutupi pandangan kami. Seketika Pak tani menghilang. Motor tetap ada dalam keadaan seperti itu. “ada apa gerangan?” kami sangat heran kesekian kalinya.

            Kami kembali mencoba membawa suasana hati sambil tertawa, merekan moment langka ini dengan video, mendengarkan musik dengan volume maksimal, dan banyak lagi.

            Ditengah perjalanan aku teringat pada bola mata cadanganku. Ya, Kacamataku. Kemana dia? Aku paksa nenden untuk berhenti. Dan untuk kesekian kalinya kami heran. di tempat kami berhenti ramai. Ada truk, Pak tani, Buk tani dan motor racing “2 tak” bersuara keras sedang lewat.

            Aku memeriksa tasku, jaket, kantong, dan segala tempat penyimpanan. Mencoba mengingat benda berharga itu. Nihil. Aku blank. akupun membujuk nenden untuk kembali ke atas, meskipun terasa tak mungkin. Nenden dengan raut muka takut dan yakin akan selamat itu pun mulai memutarkan motor ke arah atas. Aku terus berusaha mengingat dan bertanya pada Allah “dimana kacamataku ya Robb?”.

            Perjalanan panjang itu kini berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bacaan “#TLG2”. Kami mencari dan meraba tanah-tanah yang ada disana. Namun, Nihil. Tak ada tanda-tanda kacamataku berada disana. “hufft” aku mencoba Ikhlas, dan meyakinkan diri bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kami pun kembali meluncur.

            Aku sudah tak lagi peduli dan memikirkan kacamata itu. yang aku fikirkan adalah bagaimana perjalanan pulang aku dari garut sampai jatinangor tanpa bantuan alat melihat itu?. apalagi dengan berkendaraan, berapa banyak lubang yang membahayakan keselamatanku jika aku tak memperhatikannya.

            Secara diam-diam ternyata nenden memperhatikan setiap jalan menurun yang kami lewati. Aku pun tak tahu sebelumnya. Pantas saja ia mengendarai motor dengan lamban. Aku terus berfikir positif, menenangkan diri, berfikir hal lain. Ya, layaknya aku tak disini saat ini.

            Kami melewati beberapa kelok-kelokan jalan. Palang hijau itu kami temukan lagi dan kami melewati sedikit perempatan berkelok lalu berhenti seketika. “sar, itu kacamata kamu” nenden dengan ekspresi santainya. “Apa? Masa? Mana?” aku takut. Aku merasakan ada hal mistis. Aku memperhatikan sekeliling jalan kelok perempatan itu sejenak sebelum memperhatikan apa yang ditunjuk oleh nenden. Terlihat saung-saung yang terbuka, terdapat pajangan sachet minuman. Namun keanehannya adalah tak ada orang satupun. Aku memutar pandanganku dan yang ku lihat hanyalah kabut tebal ditambah dengan mataku yang cacat. Hanya 1 meter jarak kejelasan pandangku.

            Aku memberanikan diri untuk melengok dan turun dari motor. Aku melihat kacamatku dari jarak 1 meter itu. aku tak langsung mengambilnya. Aku memperhatikan sejenak dan memandangnya penuh harap seakan tak percaya bahwa yang aku lihat adalah kacamataku. “ambil sar” nenden tergesa. Kabut semakin tebal. Angin semakin dingin. Dan aku, masih tak percaya akan semua kejadian hari ini.

            Kacamata itu terletak pada tanah dan bebatuan yang teratur, tidak terbalik, tidak terbuka, tidak cacat apapun. Seperti ada tangan yang meletakan disana. Sungguh sangat mengherankan.

            Kami kembali melakukan perjalanan pulang dan aku menggenggam erat kacamataku. Berfikir keras, menerawang dalam-dalam, bahkan sesekali melamun. Sepanjang perjalanan nenden berbicara, dan jujur saja aku tak menyimak. Karena kacamataku telah membuat fikiranku melayang-layang terbang.

Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu 30 menit. Betapa kami tidak sangat heran. Banyak pemandangan yang tak kami temukan ketika pulang. Kemana jalan panjang yang kami lewati di awal perjalanan? Kemana jalan kelok-kelok nan penuh kabut itu? kemana kebun-kebun indah, rumah-rumah tak berpenghuni, saung-saung kosong, dan tanaman-tanaman indah itu?

            Fikiran kami diselimuti kabut tebal, kepala kami telah dikuasai gunung, dan kaki kami kaku pada belokan patah jalan menurun itu. kami memutuskan untuk berhenti dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara puas. Satu-satunya jalan kelok yang kami lihat pada saat pulang dan pergi ya hanya ini. Kami heran. Namun kami selimuti itu semua dengan mencoba mengabadikan diri kami dengan jalan ini.

            Nenden mulai bertingkah aneh. Mengenakan jas hujan dan mulai berpose. Akupun mulai mengambil potret pemandangan gunung dan  sawah yang terliat dari jauh seperti pelangi. Kami narsis bersama, selfie bersama dan menarik nafas panjang bersama. Memastikan apakah masih terdapat kabut atau tidak.

            Senyuman mulai terpoles, terik matahari mulai menyengat menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Melepaskan urat-urat yang tegang memang bukan perkara mudah. Dan kami bisa melakukan nya setelah kabut itu pergi.

            Selanjutnya kami melakukan perjalanan kembali dan melewati berbagai jenis jalan. Menurun, berkelok, bebatuan, berlubang dan masih banyak lagi.

            Yang kami heran, ketika kami turun rasanya cepat sekali kami sampai pada ujung jalan. Mungkin karena jalannya yang menurun jadi tidak terasa. Namun ada beberapa hal yang terbesit dalamm fikiran kami. Dan kami terus terdiam sampai pada rumah Nenden di Banyuresmi, Garut.

            Keanehan itu membuat kami banyak bengong, dan menerawang jauh ke bukit dan gunung-gunung berkabut. Kami tersadar, dan kemudian mencoba mengambil air wudhu dan sholat. Karena hanya itu yang bisa membuat kami tenang.

Alhamdulillah, kuasaMu memang tak ada batasnya. Pantas saja seorang hamba wajib bersyukur sampai akhir hayatnya dan tanpa perhitungan kesyukuran. Apapun yang terjadi kemaha agunganMu lah yang maha tinggi setinggi tingginya.

2014-01-23 11.48.20

“Wisata Horor”

(sambil mendengarkan backsound nightmare side…)

            Setelah traveling itu aku mendapat ilham untuk meneruskann salah satu hobiku yaitu menulis. Dan sepertinya ini aliran baru tulisanku. Horor, ya. Sangat menarik.

            Cerita ini, diambil dari kisah nyata. Perjalananku selama di garut. Tepatnya, kecamatan banyuresmi menuju talaga bodas yang katanya berjarak kurang lebih 15 km. Ternyata itu semua berasa bohong banget. Perjalanan yang aku lewati bersama rekanku nenden. Memakan waktu sekitar 3 jam. Percaya?. Karena aku yang nyetir, Aku terus memperhatikan spidometer yang belakangan ini baru hidup lagi. Dan aku berkata-kata dalam hati “sepertinya ini jalan sudah lebih dari 15 km deh, udah jauh banget”.

            Keadaan cuaca dalam perjalanan menuju talaga bodas pun semakin parah. Entah berapa celcius lebih dingin dari cuaca daratan garut yang katanya saja sudah dingin. Kami berbincang selama perjalanan itu. Dan kami rasa kami sudah kehabisan hal perbincangan karena sudah saking lamanya kami dalam perjalanan tersebut. Sambil sesekali kami memperhatikan pemandangan.

Jalan menuju talaga bodas begitu menanjak. Tidak ada jalan datar untuk menuju kesana. Jadi kalau kesana pake motor, jangan pernah berhenti nge-gas dan jangan lupa dengan rem yang pakem. Belum lagi dengan tipe jalan yang ber-variasi. Beberapa km pertama jalan nampak sangat mulus. Lanjut beberapa km berikutnya sudah nampak beberapa lubang-lubang yang sepertinya bekas tapak truk ataupun mobil besar. Beberapa km berikutnya lagi tak ada aspal, tak ada lubang. Yang ada hanya batu-batuan besar. Yang jikalau kami tidak berhati-hati sekali. Ban motor kami akan robek dan terbeset-beset. Bayangkan? that’s memacu adrenalin banget bro !

            Semakin menanjak keatas semakin jarak pandangku untuk terus melaju juga terbatas. karena Kabut yang tebal dan sangat lebat. bahkan sampai membuahkan setitik-dua titik air yang jatuh.

            Aku-pun memutuskan untuk mengenakan jas hujan, karena layaknya seperti hujan es. Dan angin yang sangat dingin menghembus menepuk punggungku. Sangat dingin. Tangan terlihat biru, kaku dan basah. Aku tidak tahu berapa derajatkah cuaca dalam kondisi seperti  ini. Tapi yang pasti ini lebih diatas 15 derajat.

            Kami berusaha menutupi rasa dingin dengan berbicara, dan melihat-lihat pemandangan yang tidak biasa kami lihat. Ada jurang, ada rumah terselimuti kabut tak berpenguni, ada anjing kemudian menghilang, ada kebun-kebun rindang yang terkena badai kabut. Semua itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Dan membuat kami didalam hati menjerit “kita kan mau wisata, kok jadi ketakutan begini ya”.

            Kami hampir putus asa, karena jalan yang kami tempuh pun tak sampai-sampai. Motor sudah haus. Kami pun haus minuman hangat. Namun dengan begitu tetap saja aku terus menge-gas dengan stanbay 30-40 km/jam.

Sekelibat pandangan, aku menemukan kubuk-kubuk yang kosong. ada juga kubuk toko yang buka dan aku bisa lihat sachet-sachet minuman yang sepertinya terasa nikmat jika diseduh oleh air panas. Namun, timbul pertanyaan besar “penjual nya mana ya?” seketika kabut menutupi kubuk dengan tebalnya. Dan angin dingin nan beku mengibasi daku. Aku pun berpaling keheranan.

            Aku berhenti, karena ada palang hijau menandakan petunjuk. Dan kami akan sampai. Kami berhenti di pertigaan lalu mengambil arah lurus untuk sampai talaga bodas. Kami pun semangat karena sebentar lagi kami akan sampai. Senyum lebar dalam hati yang berbisik “semoga tak terjadi apa-apa ketika sampai disana”.

            Tak disangka ternyata perjalanan masih sangat panjang. Dan sepertinya kami mulai memasuki hutan. Hutan? Ya, mungkin. Karena kami tak melihat apapun dan seorang pun disini kecuali Pepohonan besar lebat tinggi dan kami. Urat nadi mulai kencang. Mata mulai membelalak. Dan jantung mulai berdebar keras dan cepat. Menandakan ada sesuatu yang tidak lazim.

            Masih dalam perjalanan, kami menemukan jalan yang pelok. Tertampak bekas tapak truk. Nenden pun turun dan mengecek apakah bisa dilewati atau tidak. Dan aku berusaha melewati lintasan nan lembek itu. Dan akhirnya berhasil.

            Aku kira setelah dari jalan pelok itu akan segera sampai. Namun, jalan yang kami lewati masih jauh lagi ternyata. Aku terus menarik gas dan terus menanjak penuh harapan bayangan akan talaga bodas yang indah.

            Aku dan nenden semakin merasa keheranan dan aneh. Mengapa tak kunjung sampai perjalanan kita ini. Dan yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan kabut tebal yang menghalangi pandangku.

            Kemudian, kami sampai pada titik jenuh. Kami lelah, terlalu jauh perjalanan kami ini. Kami merasa melewati satu gunung besar. Berkelok-kelok pohon besar nan berkabut tebal berbising suara seperti serigala meraung-raung. Menjadikan aku dan nenden berfikir keras dan bulu-bulu tangan berdiri seketika.

            Kami berhenti pada palang bertuliskan hastag “#TLG2”. “huhh, Alhamdulillah sampai”. Kami langsung memutuskan untuk berdiri dari duduk kami selama itu. Kami pun mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar pemandangan disana. Namun yang menjadi keanehan, kami melihat portal kuning menghalangi jalan kami masuk. Kami tidak bisa melihat talaga bodas yang sesuai dengan ekspetasi kami.

            Beberapa menit kemudian, kami merasakan ada hal yang aneh. Angin yang semakin berhembus kencang menandakan ada yang tidak beres. Dengan keberadaan kami disini. Dan tanpa pikir panjang, nenden berkata “sar, pulang yu sar”. Dan tanpa berdiam dahulu akupun menuruti perkataannya dan membelokkan motor kemudian mulai turun.

            Kali ini Nenden mencoba membawa motor. karena aku menampakan wajah lelah serta terlihat biru pada tanganku karena dingin.

Dalam perjalanan pulang, kami tiba-tiba diiringi oleh dua motor yang dinaiki orang bertopi seperti Pak tani dan Bu tani. Namun mereka tidak melengokkan muka sekalipun kearah kami. Padahal kami sangat berisik, kami berbincang sepanjang perjalanan, tertawa bahkan kami menyalakan music dengan volume maksimal saking merinding dan takutnya. Berusaha untuk mencairkan suasana meskipun cuaca itu semakin membekukan.

            Kepuasan itu sepertinya tidak kami dapatkan, namun kami bersyukur bahwa yang namanya kesabaran, keyakinan, keberanian dan keteguhan itu harus kami pegang dimanapun kami berada.

            Dari jauh nampak seorang Pak tani berdiri dan motor yang ter-standar miring. Ketika kami berjalan terus mendekat semakin mendekat, kabut tebal menutupi pandangan kami. Seketika Pak tani menghilang. Motor tetap ada dalam keadaan seperti itu. “ada apa gerangan?” kami sangat heran kesekian kalinya.

            Kami kembali mencoba membawa suasana hati sambil tertawa, merekan moment langka ini dengan video, mendengarkan musik dengan volume maksimal, dan banyak lagi.

            Ditengah perjalanan aku teringat pada bola mata cadanganku. Ya, Kacamataku. Kemana dia? Aku paksa nenden untuk berhenti. Dan untuk kesekian kalinya kami heran. di tempat kami berhenti ramai. Ada truk, Pak tani, Buk tani dan motor racing “2 tak” bersuara keras sedang lewat.

            Aku memeriksa tasku, jaket, kantong, dan segala tempat penyimpanan. Mencoba mengingat benda berharga itu. Nihil. Aku blank. akupun membujuk nenden untuk kembali ke atas, meskipun terasa tak mungkin. Nenden dengan raut muka takut dan yakin akan selamat itu pun mulai memutarkan motor ke arah atas. Aku terus berusaha mengingat dan bertanya pada Allah “dimana kacamataku ya Robb?”.

            Perjalanan panjang itu kini berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bacaan “#TLG2”. Kami mencari dan meraba tanah-tanah yang ada disana. Namun, Nihil. Tak ada tanda-tanda kacamataku berada disana. “hufft” aku mencoba Ikhlas, dan meyakinkan diri bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kami pun kembali meluncur.

            Aku sudah tak lagi peduli dan memikirkan kacamata itu. yang aku fikirkan adalah bagaimana perjalanan pulang aku dari garut sampai jatinangor tanpa bantuan alat melihat itu?. apalagi dengan berkendaraan, berapa banyak lubang yang membahayakan keselamatanku jika aku tak memperhatikannya.

            Secara diam-diam ternyata nenden memperhatikan setiap jalan menurun yang kami lewati. Aku pun tak tahu sebelumnya. Pantas saja ia mengendarai motor dengan lamban. Aku terus berfikir positif, menenangkan diri, berfikir hal lain. Ya, layaknya aku tak disini saat ini.

            Kami melewati beberapa kelok-kelokan jalan. Palang hijau itu kami temukan lagi dan kami melewati sedikit perempatan berkelok lalu berhenti seketika. “sar, itu kacamata kamu” nenden dengan ekspresi santainya. “Apa? Masa? Mana?” aku takut. Aku merasakan ada hal mistis. Aku memperhatikan sekeliling jalan kelok perempatan itu sejenak sebelum memperhatikan apa yang ditunjuk oleh nenden. Terlihat saung-saung yang terbuka, terdapat pajangan sachet minuman. Namun keanehannya adalah tak ada orang satupun. Aku memutar pandanganku dan yang ku lihat hanyalah kabut tebal ditambah dengan mataku yang cacat. Hanya 1 meter jarak kejelasan pandangku.

            Aku memberanikan diri untuk melengok dan turun dari motor. Aku melihat kacamatku dari jarak 1 meter itu. aku tak langsung mengambilnya. Aku memperhatikan sejenak dan memandangnya penuh harap seakan tak percaya bahwa yang aku lihat adalah kacamataku. “ambil sar” nenden tergesa. Kabut semakin tebal. Angin semakin dingin. Dan aku, masih tak percaya akan semua kejadian hari ini.

            Kacamata itu terletak pada tanah dan bebatuan yang teratur, tidak terbalik, tidak terbuka, tidak cacat apapun. Seperti ada tangan yang meletakan disana. Sungguh sangat mengherankan.

            Kami kembali melakukan perjalanan pulang dan aku menggenggam erat kacamataku. Berfikir keras, menerawang dalam-dalam, bahkan sesekali melamun. Sepanjang perjalanan nenden berbicara, dan jujur saja aku tak menyimak. Karena kacamataku telah membuat fikiranku melayang-layang terbang.

Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu 30 menit. Betapa kami tidak sangat heran. Banyak pemandangan yang tak kami temukan ketika pulang. Kemana jalan panjang yang kami lewati di awal perjalanan? Kemana jalan kelok-kelok nan penuh kabut itu? kemana kebun-kebun indah, rumah-rumah tak berpenghuni, saung-saung kosong, dan tanaman-tanaman indah itu?

            Fikiran kami diselimuti kabut tebal, kepala kami telah dikuasai gunung, dan kaki kami kaku pada belokan patah jalan menurun itu. kami memutuskan untuk berhenti dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara puas. Satu-satunya jalan kelok yang kami lihat pada saat pulang dan pergi ya hanya ini. Kami heran. Namun kami selimuti itu semua dengan mencoba mengabadikan diri kami dengan jalan ini.

            Nenden mulai bertingkah aneh. Mengenakan jas hujan dan mulai berpose. Akupun mulai mengambil potret pemandangan gunung dan  sawah yang terliat dari jauh seperti pelangi. Kami narsis bersama, selfie bersama dan menarik nafas panjang bersama. Memastikan apakah masih terdapat kabut atau tidak.

            Senyuman mulai terpoles, terik matahari mulai menyengat menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Melepaskan urat-urat yang tegang memang bukan perkara mudah. Dan kami bisa melakukan nya setelah kabut itu pergi.

            Selanjutnya kami melakukan perjalanan kembali dan melewati berbagai jenis jalan. Menurun, berkelok, bebatuan, berlubang dan masih banyak lagi.

            Yang kami heran, ketika kami turun rasanya cepat sekali kami sampai pada ujung jalan. Mungkin karena jalannya yang menurun jadi tidak terasa. Namun ada beberapa hal yang terbesit dalamm fikiran kami. Dan kami terus terdiam sampai pada rumah Nenden di Banyuresmi, Garut.

            Keanehan itu membuat kami banyak bengong, dan menerawang jauh ke bukit dan gunung-gunung berkabut. Kami tersadar, dan kemudian mencoba mengambil air wudhu dan sholat. Karena hanya itu yang bisa membuat kami tenang.

Alhamdulillah, kuasaMu memang tak ada batasnya. Pantas saja seorang hamba wajib bersyukur sampai akhir hayatnya dan tanpa perhitungan kesyukuran. Apapun yang terjadi kemaha agunganMu lah yang maha tinggi setinggi tingginya.

cakra-indigo

Ciri-ciri Anak Indigo

Memiliki keistimewaan memang bukan sebuah keinginan setiap individu akan tetapi lebih menjadi sebab pilihan yang telah menjadi takdir. Tidak selamanya keistimewaan dapat diterima oleh setiap individu apalagi bagi anak-anak yang memiliki keistimewaan panca indera atau lebih dikenal dengan anak indigo. Kesulitan adaptasi dengan kelebihan yang dimilikinya seringkali membuat anda kesulitan dalam memahami mereka.

Adapula yang menyebutkan bahwa anak indigo adalah mereka yang memiliki kemampuan di luar batas anak normal lainnya. Sehingga dalam beberapa kasus ditemukan anak yang tumbuh di keluarga dengan menggunakan bahasa indonesia justru sangat fasih dalam menggunakan bahasa asing (inggris) pada awal mula dia bisa berbicara tanpa ada yang memberikan pengajaran khusus.

Anak indigo dipopulerkan oleh penemuan Nancy Ann Tappe dalam sebuah buku yang menemukan adanya warna aura manusia yang dihubungkan dengan kepribadian. Seorang konselor di Amerika Serikat ini menemukan adanya warna indigo atau nila, pencampuran antara warna biru dan ungu yang biasanya dimiliki oleh orang dewasa ditemukan pada anak-anak. Tidak semua orang tau bahwa setiap anak indigo memberikan ciri ciri dalam kehidupan setiap harinya.

Berikut adalah ciri ciri anak indigo berdasarkan fisik dan psikologis :

1.  Memiliki jiwa yang tua

Anak indigo memiliki jiwa yang cenderung lebih tua dibanding dengan usia sebayanya. Sebagian dari mereka ada yang menunjukan pertumbuhan jiwa di usianya yang masih bayi dalam memahami kemampuan berfikir, memahami benda-benda dan karakter orang dewasa. Bahkan perkembangan jiwa yang tumbuh cepat mempengaruhi pertumbuhan fisik seperti tumbuhnya gigi  dan kemampuan motorik yang lebih cepat dibandingkan dengan keadaan normalnya.

2.  Bentuk kepala yang memiliki ciri khas

Bentuk fisik yang mungkin anda lihat adalah kepala yang sedikit besar dari anak seusinya terutama terlihat jelas pada bagian lingkar kepala, dahi dan kening yang lebih lebar. Kuantitas otaknya lebih besar dikarenakan mempunyai kemampuan dalam menganalisi panca inderannya.

3.  Bentuk daun telinga

Anak indigo dapat dilihat dari daun telinga yang memiliki perbedaan ketimbang anak lainnya seperti bentuknya yang sedikit keluar dari kepalanya, telinganya lebih memanjang di bagian ujung atas dan menekuk bagian cuping bawahnya. Hal ini terjadinya karena kepekaan dalam pendengarannya di atas normal.

4.  Mata yang lebih tajam

Anak indigo memiliki tatapan mata yang tajam dan dalam apalagi di bagian pupil lebih besar dibanding dengan anak normalnya, sehinga terkesan memilii sedikit ruang warna putih. Dengan mata yang tajam seperti ini anak indigo memiliki kemampuan supranatural dalam melihat dimensi-dimensi lain yang tidak kasat mata.

5.  Tanda kelahiran

Pada anak anak indigo sering kali ditemukan tanda-tanda kelahiran yang aneh seperti yang terdapat di dahi, atau kedua matanya. Warna tanda kelahiran anak indigo biasanya cukup jelas seperti warna lebam, bekas pukulan.

6.  Bagian tubuh yang sakit

Dalam beberapa kasus anak yang mempunyai keistimewaan ditemukan pernah mengalami sakit kepala yang tidak tertahankan kemudian lambung yang melemah. Hal ini dikarenakan adanya stress dalam berpikir yang keras yang tidak dikehendaki sehingga memerlukan energi yang besar. Sedangkan lambung yang lemah dikarenakan produksi asam lambung yang meningkat ketika anak indigo stress.

7.  Kepribadian emosional

Anak indigo memiliki empati yang tinggi disebakan karena kepekaan yang berlebih pada lingkungannya. Anak indigo juga memiliki rasa marah yang mendesak sehingga menjadi semangat dalam memperbaiki keadaannya. Terkadang anak indigo mendengar suara yang diluar batas kemampuanyya sehingga menjadikan dirinya pribadi yang berubah-ubah.

Zakat membuat Harta Sehat

Рис-для-похудения-Rice-Diet-Solution

Zakat Fitrah (Zakat Fitr) adalah zakat yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, ketika kaum muslimin telah mengakhiri masa-masa puasa mereka di bulan tersebut, hingga akhir bulan yang disusul dengan datangnya bulan Syawal.

Oleh karenanya ia disebut Fitr, yang artinya berbuka dan tidak lagi diwajibkan berpuasa.

Dari sini kita mengetahui bahwa zakat fitr adalah zakat yang disyariatkan sebagai pertanda berakhirnya bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal.

Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitr hukumnya wajib, berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘anhu, bahwa:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitr satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari gandum, bagi setiap orang yang merdeka atau budak, laki-laki atau wanita dari kaum muslimin.” (Muttafaq Alaihi)
Ibnul Mundzir berkata: Para ulama sepakat bahwa sedekah fitr hukumnya wajib.

Hikmah Disyariatkannya Zakat Fitrah

Dalam syariat Islam, zakat fitr memiliki hikmah dan kemaslahatan yang besar yang bisa kita petik darinya. Diantaranya:
Pertama : Membersihkan pahala orang yang berpuasa dari berbagai perbuatan sia- sia dan kesalahan, sehingga seorang yang berpuasa dapat meraih kesempurnaan pahala puasanya.
Kedua : Memberi makan kepada orang miskin, sehingga mereka juga merasakan kegembiraan di hari raya sebagaimana yang dirasakan oleh orang kaya. Kedua hikmah ini diambil dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,:
“Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat Fitr untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia- sia dan kesalahan, dan memberi makan kepada orang- orang miskin.”
(HR.Abu Dawud, Ibnu Majah, Daruquthni, dan yang lainnya dari Abdullah bin Abbas Radiyallohu ‘anhu, dengan sanad yang hasan)

Siapa Yang Diwajibkan Menunaikan Zakat Fitrah?

Zakat fitr diwajibkan kepada siapa saja dari kaum muslimin yang hidup di dunia pada saat terbenamnya matahari pertanda masuknya satu Syawal di malam Idul Fitri. Dimana seorang muslim mengeluarkan zakat atas dirinya dan siapa saja yang wajib dinafkahinya seperti anak, isteri  atau budaknya. Jika seseorang memiliki harta sendiri, maka dia mengeluarkan zakat dari hartanya, jika tidak ada maka yang membayarkan zakatnya adalah yang menafkahinya.

Orang yang wajib membayar zakat fitr adalah seseorang yang memiliki kelebihan harta dalam tempo waktu sehari semalam di hari itu. Jika seseorang telah memiliki kecukupan untuk memenuhi kebutuhan nafkah dirinya dan keluarganya di hari dan malamnya, kemudian masih ada kelebihan yang cukup untuk membayar zakat fitr, maka ia wajib untuk membayar zakat fitr untuk dirinya dan keluarganya, meskipun dia tidak termasuk orang yang kaya. Namun jika tidak memiliki kelebihan dari nafkah wajibnya, maka tidak ada kewajiban baginya membayar zakat fitr.

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, memerintahkan untuk membayar sedekah fitr untuk anak kecil, orang dewasa, merdeka dan budak, dari orang- orang yang wajib kalian nafkahi.”
(HR.Baihaqi dan Ad-Daruquthi, dihasankan Al-Albani dalam Al-Irwa:835)

Apabila ada seorang anak yang lahir di hari terakhir bulan Ramadhan sebelum terbenamnya matahari yang menunjukkan masuknya satu Syawal, maka wajib dibayarkan zakat fitr untuknya.

Demikian pula yang masuk Islam di hari terakhir Ramadhan sebelum terbenamnya matahari, wajib baginya membayar zakat fitr. Namun jika bayi tersebut lahir atau seseorang masuk Islam setelah terbenamnya matahari di malam satu syawal, maka tidak ada kewajiban zakat fitr baginya.

Apakah Janin Wajib Dizakati?

Adapun janin yang masih berada di dalam perut ibunya, tidak ada kewajiban zakat fitr baginya, sebagaimana yang dikuatkan oleh mayoritas para Fuqaha. Namun jika ia ingin mengeluarkan zakat untuk janin, maka hal itu disukai, sebagaimana yang diamalkan oleh Utsman bin Affan Radiyallohu ‘anhu, bahwa beliau mengeluarkan zakat untuk anak kecil, orang dewasa dan janin dalam kandungan.
(Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Masaail-nya (9/170) dari Humaid bin Bakr dan Qatadah)

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Mushannaf-nya, dan Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya dari Abu Qilabah berkata: “ mereka (para sahabat Nabi) menunaikan zakat Fitr hingga mereka membayar zakat untuk janin dalam kandungan.”

Kapan Zakat Fitrah Dikeluarkan?

Mengeluarkan zakat Fitr, ada tiga waktu:
•    Waktu yang utama, ditunaikan di pagi hari raya, sebelum berangkat menuju shalat Ied. Berdasarkan hadits Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, memerintahkan untuk membayar zakat fitr sebelum manusia keluar menuju shalat.” (Muttafaq alaihi)
•    Waktu wajib, yaitu di saat terbenamnya matahari pada hari akhir di bulan Ramadhan, yang menunjukkan masuknya satu syawal.
•    Waktu diperbolehkan, yaitu mengeluarkan zakat fitr sebelum hari raya sehari, dua hari, atau tiga hari sebelumnya.Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa mereka (para sahabat Nabi) mengeluarkan zakat fitr sehari atau dua hari (sebelum hari raya).”
(HR.Bukhari)

Juga diriwayatkan Imam Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, tatkala Abu Hurairah menjaga zakat fitr selama tiga malam, lalu setan datang mencuri selama tiga malam tersebut.

Adapun mengeluarkan zakat fitr setelah shalat Idul Fitri, maka itu sudah tidak termasuk zakat fitr, namun hanya sebagai sedekah biasa. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:
“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (Ied), maka itu zakat yang diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sedekah diantara sedekah- sedekah yang ada.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani dalam sahih Abu Dawud)

Namun para ulama mengecualikan orang yang memiliki udzur sehingga dia membayar zakat fitr setelah shalat Idul Fitr. Seperti halnya orang yang tertidur hingga ia terbangun setelah kaum muslimin melaksanakan shalat Ied, maka diperbolehkan baginya membayarnya setelah shalat Ied. Wallahu A’lam.

Apa Yang Dikeluarkan Sebagai Zakat Fitrah?

Yang dikeluarkan sebagai zakat fitr adalah yang menjadi makanan pokok manusia yang ada di negeri tersebut. Adapun makanan pokok yang ada di negeri kita (Indonesia) adalah beras, sehingga beraslah yang dikeluarkan sebagai zakat fitr.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Said Al-Khudri Radiyallahu anhu, berkata:
“Kami mengeluarkan (zakat) hari fitr di jaman Rasulullah  satu sha’ dari makanan.” Lalu berkata Abu Said: “makanan kami ketika itu adalah gandum, kismis, susu beku (semisal keju), dan kurma.” (HR.Bukhari:1439)

Adapun mengeluarkan zakat  fitr dengan uang, hal ini tidak diperbolehkan menurut pendapat yang lebih kuat dari para ulama, dengan beberapa alasan:
1)    Hadits- hadits yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, menunjukkan bahwa yang dikeluarkan adalah makanan pokok,bukan makanan yang lain, bukan barang, dan bukan pula uang.
2)    Tidak dinukilkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menganjurkan mengeluarkan zakat fitr dengan dinar atau dirham , tidak seperti halnya Beliau memerintahkan mengeluarkan zakat harta (bukan zakat fitr) dengan dinar dan dirham. Kalau seandainya membayar dengan dirham diperbolehkan pada zakat fitr, tentu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, telah menerangkannya.

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah:
“Tidak halal bagi seseorang mengeluarkan zakat fitr dengan dirham (uang maksudnya,pen), atau pakaian, atau kasur. Namun yang wajib adalah mengeluarkannya dengan apa yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam,, dan tidak teranggap apa yang dianggap baik oleh manusia, sebab syariat ini tidaklah mengikuti pendapat orang, namun ia berasal dari yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, dan Allah Subhaanahu wata’aala, Maha Mengetahui dan Maha Bijak, sehingga apabila telah diwajibkan melalui lisan Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, satu sha’ dari makanan, maka tidak boleh melanggar hal itu meskipun akal- akal kita menganggapnya baik, namun yang wajib bagi seseorang jika ia menganggap baik sesuatu yang menyelisihi syariatnya, agar hendaknya ia menuduh akal dan pendapatnya.”
(Majmu’ fatawa Ibnu Utsaimin: 18/280)

Pendapat yang tidak membolehkan membayar zakat fitr dengan uang adalah pendapat Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan yang lainnya.

Ukuran Zakat Fitrah

Adapun ukuran zakat fitr yang dikeluarkan, sebanyak satu sha’. Berkata Abu Said Al-Khudri Radiyallahu ‘anhu :
“Kami mengeluarkannya pada jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, satu sha’ dari makanan.”(Muttafaq alaihi)

Satu sha’ itu seukuran 4 mud, 1 mud seukuran dengan dua telapak tangan laki-laki dewasa yang tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. Para ulama memperkirakan ukurannya sekitar 2,3 kg dari beras. Wallahu A’lam.

Siapa Mustahiq (yang berhak) Mendapatkan Zakat Fitrah?

Zakat fitr hanya diberikan kepada fakir miskin menurut pendapat yang lebih kuat, dan tidak diberikan kepada muallaf, ibnu sabil, dan yang lainnya dari 8 golongan yang disebut dalam surah at-Taubah (60). Sebab ayat tersebut berkenaan tentang mustahiq dalam zakat maal, bukan zakat fitr. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radiyallohu anhu, berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitr untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kesalahan, dan memberi makan kepada orang- orang miskin.”
(HR.Bukhari)

Adapun yang ditugaskan mengumpulkan zakat fitr, jika dia termasuk fakir miskin, maka dia boleh mengambil zakat fitr, namun jika tidak, maka dia tidak boleh mengambilnya.

 

Bagaimana Cara Membagikan Zakat Fitr?

Dalam membagikan zakat fitr, bisa dilakukan dengan dua cara:
1.    Membagikan secara langsung kepada fakir miskin, tanpa melalui perantara. Cara ini lebih menenangkan orang yang membayar zakat, sebab dia dapat mengetahui secara langsung bahwa zakatnya telah diterima oleh yang berhak menerimanya.
2.    Menyerahkan zakat tersebut kepada yang diberi tanggung jawab untuk mengumpulkan zakat fitr, seperti halnya Abu Hurairah Radiyallohu anhu, yang ditugaskan untuk menjaga zakat Ramadhan (fitr). 
Sebagai tuntunan ringkas , tulisan tentang zakat fitr ini mudah-mudahan dapat difahami dengan baik dan diamalkan, dan semoga Allah Azza wa Jalla, menyempurnakan amalan ibadah kita di bulan Ramadhan, sehingga kita termasuk diantara hamba-hamba-Nya yang meraih ampunan-Nya.

Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal

10530935_250747438459344_651777907477681915_n

Yakin Kamu Ber Hijab ?

Sekarang sudah zamannya serba serbi modern. Mulai dari teknologi, transportasi sampai ke masalah fashion juga udah modern. Semakin lama semakin dihiraukan aturan-aturan yang ada. Contohnya saja dalam hal berjilbab. Kita tahu sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Al-qur’an, seorang muslimah wajib menggunakan hijab (penutup) atau yang lebih kita kenal dengan nama kerudung atau jilbab. Sudah jelas tertera dalam Al-Qur’an QS. Al-Ahzab : 59 dan An-Nur : 31.

Dalam QS. Al-Ahzab : 59 dijelaskan, bahwa Allah SWT menyerukan kepada kita agar mengulurkan jilbabnya hingga ke seluruh tubuh. Jilbab di sini maksudnya semacam baju kurung yang tidak ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh seorang wanita untuk menutupi aurat. Di dalam surah ini pula dijelaskan apa maksudnya Allah SWT menyuruh kita agar menutup aurat kita. Tujuannya supaya para muslimah lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Sedangkan dalam QS. An-Nur : 31 lebih menjelaskan dan melengkapi dari penjelasan di Surat Al-Ahzab ayat 59.

Coba kita bandingkan jilbab dengan segala aturannya yang ada dalam Al-Qur’an dengan jilbab yang kalian pakai saat ini. Sudah syar’i kah jilbab kalian? Kebanyakan muslimah saat ini lebih mementingkan mode trend terkini dibandingkan dengan yang sudah diatur dalam Al-Qur’an.

Apa yang dimaksud jilbab gaul? Jilbab gaul itu yang sering dipakai kebanyakan muslimah saat ini. Entah mungkin karena mereka belum mengetahui bagaimana aturan menggunakan jilbab atau mereka sudah tahu tapi enggan melakukannya. Jilbab gaul itu jilbab yang dililit, dengan pakaian yang ketat memperlihatkan bentuk tubuh, yang penting asal panjang dan menutupi tangan dan kaki. Padahal sudah tertera dalam Al-Qur’an jilbab itu bukan dililit, tetapi diulurkan.

Dan yang dimaksud jilbab syar’i adalah jilbab yang sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Al-Qur’an dan hadist. Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa jilbab itu seperti baju kurung. Tanda itu tidak ketat. Misalnya seperti gamis, ataupun atasan yang longgar dan menggunakan rok. Bukan seperti pada kenyataan saat ini. Para muslimah menggunakan jilbab dililit dengan baju dan celana yang ketat. Hal itu sangat bertolak belakang dengan ketentuan yang ada dalam Al-Qur’an.

Karena mengikuti trend dan mode masa kini menjadi alasan mereka mengapa menggunakan jilbab yang tidak syar’i. Ingat ukhti, jilbab yang syar’i itu ketentuannya berasal dari Allah SWT. Sedangkan jilbab gaul itu ketentuannya berasal dari manusia.

Jilbab gaul vs jilbab syar’i, yang mana yang kalian pilih ukhti? Yang sesuai dengan ketetapan Allah SWT atau yang sesuai dengan ketetapan mode fashion zaman sekarang? Mengikuti kaum mayoritas yang salah atau mengikuti kaum minoritas yang benar? Lebih baik kepanasan di dunia atau di akhirat? Selagi ada umur, ayo syar’ikan jilbabmu!

How to Use Jilbab Syar’i?

1. Jilbab yang panjang dan tebal (tidak tipis dan tembus pandang)

Sesuai dengan yang ada di dalam Al-Qur’an, jilbab yang syar’i itu menutupi dadamu. Tidak dililit ke atas kepalamu atau dimodifikasi agar tidak panjang. Mudah bukan? ga ribet, ga susah.

2. Menggunakan baju gamis atau baju yang longgar dan rok

Sudah jelas dalam Al-Qur’an, kita diwajibkan untuk menggunakan baju kurung atau baju yang tidak ketat memperlihatkan bentuk tubuh kita ukhti. Dan baju yang tidak ketat itu adalah gamis atau baju yang longgar dan rok. Its so simple to do. Dari pada kalian menggunakan pakaian yang ketat dan sangat tidak nyaman dipakai.

3. No Punuk Unta

Punuk unta? Apa itu? Tahukah kalian?? Para muslimah zaman sekarang menampakkan rambutnya yang digelungkan saat berhijab. Itulah yang dimaksud punuk unta. Bahkan lebih mirisnya lagi, kini sudah tersedia ciput yang ada punuk untanya. Dalam Islam ini dilarang. Berikut adalah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim :

“Ada golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim No. 2128)

Sudah jelaskan dalam hadist tersebut. Lebih baik jika yang berambut panjang bisa dikepang atau diikat biasa. Tidak digelungkan ke atas dan terlihat seperti punuk unta.

4. Menggunakan kaos kaki

Tahukah ukhti? Kakimu itu termasuk aurat yang harus ditutup. Jadi ketika keluar rumah atau bepergian kemanapun, jangan lupa gunakan kaos kakinya. Sudah jelaskan batas-batas aurat kita. Semuanya aurat kecuali telapak tangan dan wajah.

Mudah bukan untuk menggunakan jilbab syar’i yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Betapa Allah SWT sangat menjaga dan menyayangi diri kita. Tapi kita malah tidak menjaganya. Jagalah auratmu dari orang yang tidak berhak melihatnya. Banyak kasus pelecehan terjadi karena wanita kebanyakan menggunakan pakaian yang terbuka. Itu sudah tentu dapat mengundang setan untuk menggoda lawan jenismu melakukan pelecehan. Kalau sudah begitu, siapa yang harus disalahkan? Mata mereka akan terjaga jika dirimu menjaga penampilanmu pula. Islam teach you to covering not wrapping your aurat, ukhti. Islam mengajarkanmu untuk menutupi bukan membungkus auratmu.

10547585_252315904969164_5615127285367130010_n

Setetes Embun Cinta Niyala

”Kak Faiq, jelaskan padaku…apa arti semua ini? Kakak sedang bersandiwara bukan?” Lanjut Niyala dengan terisak dan air mata berkucuran.

”Adikku Niyala, dengarkan baik-baik ya! Kakak bersumpah demi Allah, kakak sungguh-sungguh hendak menikahimu secepatnya. Kakak tidak mungkin bisa hidup tanpa dirimu disamping kakak. Kakak sangat mencintaimu. Dan kakak tidak pernah dan tidak akan pernah mencintai wanita selain Umi dan dirimu. Kakak ingin kau menjadi istri kakak, menjadi pendamping kakak mengarungi hidup ini, berlayar menuju ridha Ilahi. Dan kakak ingin kaulah yang melahirkan, mendidik dan membesarkan anak-anak kakak. Kakak berjanji akan membawamu ke istana kebahagiaan semampu kakak. Ini bukan sandiwara lagi. Ini serius. Apakah kau ragu untuk melangkah ke pernikahan, mengarungi hidup dengan kakak, Adikku?” Kali ini Faiq menjawab dengan segenap perasaannya.

Kedua matanya basah.

Mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari lisan Faiq dengan penuh kesungguhan itu, Niyala merasa ada hawa dingin yang turun dari langit. Hawa dingin itu merasuk di ubun-ubunnya lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Hatinya merasakan kesejukan yang luar biasa. Tetesan air matanya semakin deras.

”Adik ikut kakak. Adik sepenuhnya percaya pada kakak.” Pelan Niyala sambil menunduk. Perasaan haru, bahagia, cinta, optimis dan surprise membaur jadi satu dan berpendar-pendar dalam dadanya. Ia belum pernah merasakan perasaan seindah itu sebelumnya.

”Semuanya sudah terang. Jadi dalam rencanamu, kapan akadnya akan dilangsungkan, Anakku? Tanya Umi sambil memandang wajah Faiq lekat-lekat.

”Ananda berharap tidak ada yang kaget. Akad nikah akan kami laksanakan malam ini juga!”

Tak ayal Niyala, Umi, Pak Rusli dan Herman kaget mendengarnya.

”Ini bukan lelucon Anakku!” Seru Umi.

”Ananda serius, Umi. Ananda tidak main-main. Untuk sebuah acara sakral yang cuma sekali dilaksanakan dalam hidup, apa ananda akan main-main? Ananda sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ananda sudah mengontak KUA dan membereskan administrasinya. Ananda juga sudah mengundang tokoh-tokoh masyarakat, remaja masjid dan masyarakat sekitar sini. Ananda sudah mengundang Pak Kiai Imam Jazuli. Ananda juga sudah mempersiapkan katering dan handycamnya. Semua sudah ananda persiapkan di Aula Islamic Centre, Umi. Setengah jam lagi acaranya akan dimulai. Orang-orang sudah menunggu disana. Dua puluh menit lagi akan ada dua mobil datang kemari. Sekarang sebaiknya Niyala, Umi, Pak Rusli, dan Mas Herman bersiap-siap. Adik Niyala, kau cucilah mukamu. Berdandanlah yang anggun dan jangan berlebihan, namun jangan juga sampai ada guratan kesedihan di wajahmu. Kakak ingin kau bahagia. Gaun pengantin khas Turki yang kakak berikan tadi pagi pakailah. Sementara kakak juga akan bersiap-siap. Kalau begitu, kita tutup dulu musyawarah ini dengan doa kafaratul majlis. Lalu kita semua bersiap-siap.”

Setelah ditutup dengan doa. Empat orang itu sibuk mempersiapkan diri untuk sebuah acara sakral yang tidak terduga-duga.

***

Niyala membasuh wajahnya dengan lotion pembersih wajah. Lalu mengambil air wudhu. Di kamarnya ia menyempatkan untuk shalat dua rakaat meminta ketenangan dan kebahagiaan. Setelah itu ia berdandan seperti yang diminta kakak angkat yang sangat ia kagumi dan ia cintai, yang kini tiba-tiba menjadi calon suaminya. Ia memakai gaun pengantin khas Turki. Kepalanya ditutupi jilbab sutera Turki. Ia berdandan dengan cepat namun hasilnya tetap luar biasa. Tanpa berdandan pun Niyala sudah cantik mempesona. Di luar terdengar suara derum mobil.

Faiq keluar dari kamarnya dengan pakaian biru telur yang menawan. Peci hitam bersulam emas membuat dia semakin tampan. Lalu Niyala keluar dati kamarnya. Keduanya berpandangan sesat lalu saling menunduk. Hati keduanya berbunga-bunga. Baru kali ini mereka berpandangan namun disertai perasaan sangat indah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Tak lama kemudian Umi, Pak Rusli dan Herman sudah siap. Merekapun meluncur menuju Islamic Centre. Di sana semuanya telah siap. Lampu hias menyala gemerlapan. Para tetangga, para pemuda dan tokkoh-tokoh masyarakat sudah memenuhi ruangan.

Malam itu, akad nikah antara Niyala Binti Rusli Hasibuan dan Muhammad Faiq Bin Saiful Anam berlangsung dengan penuh khidmat, dan dalam acara yang sakral itu Faiq kembali memberikan kejutan yang membuat Niyala dan ayahnya juga seluruh yang hadir terkesima. Faiq memberikan mahar sebuah mushaf cantik yang ia beli di Cairo, uang tunai senilai 85 juta rupiah dan hafalan surat Ar-Rahman.

Saat Faiq membaca surat Ar-Rahman dengan nada penuh penghayatan, keindahan suaranya mampu membuat semua yang hadir meitikkan air mata. Setiap kali Faiq melantunkan ayat ”Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan (artinya :”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?”). Dengan diiringi isak tangisnya, semua yang hadir ikut terisak menangis. Dan diantara sekian banyak orang menangis, yang paling dalam tangisannya sampai kerelung jiwa adalah Niyala. Pintu hatinya terasa terbuka bagaikan melihat keagungan Tuhannya. Saat itulah ia merasakan bahwa Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Ia merasakan betapa agungnya nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya.

Setelah khutbah nikah dan do’a, acara dilanjutkan dengan pesta walimah yang cukup meriah. Grup rebana dan shalawat remaja mesjid tampil memukau. Seorang anak TPA berjilbab merah jambu dan berpakaian merah jambu membacakan sebuah puisi berjudul ’Bidadariku’. Suaranya yang jernih dan merdu mampu menyihir seluruh manusia yang ada dalam aula itu. Pesan puisi itu tersampaikan dengan dahsyat :

”Mas kawin untuk bidadariku
Adalah sekuntum bunga melati
Yang aku petik dari sujud sembahyangku
Setiap hari
Buah cintaku dengan bidadariku
Adalah lahirnya sejuta generasi teladan
Yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
Bagi manusia dan kemanusiaan
Pada setiap tempat, pada setiap zaman
Mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
Dalam abad-abad yang susah,
Abad-abad yang tidak mengenal Tuhan
Abad-abad hilang naluri kemanusiaan
Abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
Dan mereka tetap kekar dan setia membela kebenaran
Dan keadilan
Estafet perjuangan kami berelanjutan
Sambung-menyambung pada setiap generasi
Tak berpenghabisan dan terus bergerak
Mengaliri ladang-ladang peradaban
Seperti cintaku pada bidadariku
Yang terus tumbuh semakin subur
Dari hari ke hari
Laksana kalimat suci
Di hati para salehin
Di hati para Nabi”

Niyala sangat tersebtuh mendengar puisi itu. Ia berkata dalam hati, ’Oh puisi yang indah! Siapakah dia gerangan yang mencintai istrinya dengan begitu indah dan sucinya ? Siapakah dia yang cintanya pada istrinya yang tak berpenghabisan, yang terus tumbuh semakin subur, dari hari ke hari, laksana kalimat-kalimat suci, di hati para salehin, di hati para nabi ? Siapakah dia yang menulis puisi itu ? Kenapa anak itu tidak lebih dahulu memperkenalkan siapakah pembuatnya?”

’Tiga detik kemudian pertanyaan Niyala terjawab. Usai membaca puisi gadis berjilbab merah jambu itu berkata,
bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin sekalian yang dirahmati Allah. Puisi ini ditulis dengan segenap tetesan jiwa oleh kakak Muhammad Faiq saat masih kuliah di Mesir untuk seorang bidadari impiannya. Yan saat itu dia belum tahu siapa bidadrinya? Dan ternyata bidadarinya yang sangat dicintainya adalah Mbak Niyala yang cantik jelita!”

Tak ayal, tepuk tangan langsung bergemuruh membahana. Beberapa ibu tampakk mengusap ujung matanya dengan sapu tangan. Hati Niyala berdesir kencang. Ia merasakan kesejukan luar biasa. Tiada henti-hentinya mendengdangkan hamdalah. Entah dari mana datangnya tiba-tiba ia teringat potongan sajak ”mendalam” Armin Pane :

Kasih lari mendatang,
Bersua pantai tujuan sayang.
Memecah menghebat gembira,
Melama, damai, kasih mendalam.

* * *

Acara akad nikah yang indah itu selesai tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit. Setelah semua hadirin memberi ucapan selamat, dua pengantin dan keluarganya kembali ke rumah. Mereka tidak langsung istirahat. Tapi berbincang-bincang di ruang tamu dengan wajah berhias bahagia. Niyala masih mengenakan gaun pengantinnya. Dan Faiq belum mengganti pakaiannya.

”Faiq anakku, Umi sangat bangga padamu, Nak. Kalau boleh ibu tanya dari mana kau dapatkan biaya sebanayak itu?”

Faiq yang duduk di sofa panjang di samping Niyala mengambil nafas panjang. Lalu menjawab,

”Anandalah yang semestinya bangga memiliki seorang ibu seperti Umi. Umilah yang berkorban dan pontang-panting mencarikan biaya agar ananda bisa kuliah ke Mesir. Kalau bukan karena umi, Faiq tidak akan menjadi seperti sekarang. Faiq juga tidak akan punya biaya sebanyak itu. Itu selalu mengajarkan agar ulet, sabar dan tidak menyerah. Dan itulah yang Faiq kerjakan. Umi juga sering mewanti-wanti agar Faiq hidup bersahaja dan hemat, itu j uga yang Faiq kerjakan. Dulu Faiq pernah kirim uang beberapa ratus dolar pada Umi tapi Umi menginginkan agar Faiq menyimpannya untuk hari depan Faiq. Dan semua nasihat Umi Faiq indahkan. Alhamdulillah berkat do’a restu Umi, Ananda dapat beasiswa S2 di London. Beasiswa itu hanaya cukup buat memenuhi kebutuhan ananda. Namun ananda bisa bekerja part time di sebuah toko. Gajinya ananda tabung. Setelah itu ananda mendapat tawaran untuk mengajar bahasa Arab di Islamic Centre. Ananda pun tinggal di sana jadi uang sewa apartemen bisa ananda tabung. Alhamdulillah dengan itu semua ananda bisa membiayai pernikahan ini. Dan saat ini ananda massih punya sisa tabungan sebesaar 15 ribu pounsterling. Insya Allah cukup untuk membiayai Dik Niyala untuk mengambil Specialis.”

Bagaimana kau melakukan ini? Apakah telah benar-benar kau persiapkan jauh-jauh hari? Tanya Umi lagi.

”Tidak Umi semuanya faiq siapakan tadi pagi sepulang dari Pulo Gadung. Umi apa lupa, dulu kan Faiq Ketua Remaja Masjid dan Humas Karang Taruna. Jadi, semuanya mudah saja. Terus, kepala KUA nya itu kan teman satu bangku Faiq waktu SD. Yang jelas, semuanya alhamdulillah berjalan dengan baik. Namun, Faiq minta maaf pada Umi, Pak Rusli dan Mas Herman. Dalam musyawarah tadi Faiq telah berbohong. Faiq minta maaf.”

”Apa itu Anakku kalau boleh Umi tahu?”

”Faiq mengatakan telah menjalin cinta dengan Dik Niyala sejak SMP itu sebenarnya Faiq berbohong. Maafkan Faiq. Yang benar, sejak dulu Faiq menganggap Niyala seperti adik sendiri. Dan sebetulnya Faiq mulai merasa mencintai Dik Niya bukan sebagai adik adalah sejak tadi pagi. Sejak Umi mengungkapkan rasa tidak bisa berpisah dengan Dik Niya. Sejak Umi merasa tidak ada perempuan yang bisa memahami dan mencintai Umi melebihi Dik Niya. Sejak itulah Faiq meraba hati Faiq, ternyata Faiq juga berat berpisah dengan Dik Niya.

Dan setelah Dik Niya minta pada Faiq untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, maka Faiq langsung mempersiapkan segalanya.”

Umi, Pak Rusli dan Herman manggut-manggut mendengar pengakuan Faiq. Mata mereka semua berkaca-kaca.

”Kalau kau Niya sejak kapan cintamu pada kakak angkatmu berubah menjadi cinta seorang gadis pada pemuda pujaannya?” celetuk Herman.

”Kalau dia kayaknya saat pertama kali lihat aku dulu, sejak masih ingusan,hehehe…” Serobot Faiq sambil tertawa renyah. Semua ikut tertawa kecuali Niyala.

”Ih, kakak nakal! Main tuduh sembarangan!” Sewot Niyala.

”Lalu sejak kapan?”

”Sejak musyawarah tadi. Sejak kakak meyakinkan pada Niya, bahwa kakak tidak sedang bersandiwara, tapi kakak bersungguh-sungguh. Sejak itulah rasa kagumku pada kakak berubah menjadi rasa cinta.”

Umi menitikkan air mata mengetahui kisah cinta dua anak yang disayanginya itu. Ia hanya bisa mengucapkan Subhanallah dalam hati.

”Emm…Nak Faiq, maharnya apa tidak terlalu besar?” Sahut Pak Rusli dengan mata basah dan tangan bergetar memegang tas kecil berisi uang tunai 85 juta rupiah.

”Masya Allah. Mahar itu tidak ada nilainya untuk seorang gadis shalehah seperti Niyala. Dunia seisi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seorang istri shalehah. Bagi Faiq, Dik Niyala tidak bisa dinilai dengan materi.”

Niyala menunduk dengan air mata kembali menetes mendengar perkataan suaminya. Ia merasa dirinya sangat dihargai dan dimuliakan. Hatinya tiada henti memuji keagungan Allah. Ia berjanji akan benar-benar menjadi istri yang shalehah untuknya dan akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.

”Apakah masih ada yang perlu dibicarakan? Saya capek sekali. Saya perlu istirahat.” Ucap Faiq.

”Memang sudah malam. Saatnya istirahat. Apalagi besok pagi kita ada acara menghadiri wisuda Niyala.”

Umi bangkit dari duduknya diikuti pak Rusli dan Herman. Faiq berbisik manja di telinga Niyala, ”Faiq malam ini tidur dimana Bu Dokter? Kamar Faiq ditempati ayah sama kakakmu. Masak Faiq harus tidur di ruang tamu? Bolehkah Faiq tidur di kamar Bu Dokter?”
Niyala tidak menjawab. Ia meraih kepala Faiq dan hendak menciumnya. Faiq meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibirnya. ”Sst jangan disini”. Dengan gerakan cepat Faiq membopong Niyala ke kamar. Umi, Pak Rusli dan Herman menyaksikan itu dengan tersenyum geli.

Sampai di kamar, Faiq meletakkan Niyala dan mendudukkannya perlahan di sisi ranjang. Faiq mengamati wajah istrinya itu lekat-lekat. Maha suci Allah yang telah mengukir wajah seindah ini. Bisiknya dalam hati.

”Kakak capek?” Lirih Niyala

”He eh.”

”Mau dipijit?”

”He eh.”

”Kak, boleh Adik minta sesuatu?”

”Boleh.”

”Adik tahu kakak capek. Tapi adik minta, malam ini juga wisudalah adik menjadi seorang perempuan yang paling berbahagia di dunia, sebelum besok adik di wisuda menjadi sarjana Kedokteran.”

”Maksud Adik?”

Niyala mengerdipkan mata.

Faiq tersenyum dan berkata, ”Baiklah, kakak mengerti maksudmu. Tapi tolong kakak dipijitin dulu donk, biar segar. Kakak capek banget. Setelah segar, kita shalat bareng dua rakaat. Bermunajat kepada Allah yang telah memberikan nikmat maha agung kepada kita berdua. Barulah kakak akan mewisudamu dan membawamu ke taman surga.”

”Tapi nanti saat shalat jangan baca surat yang panjang ya kak? Membaca surat yang pendek saja.”

”Lho justru nanti rakaat pertama kakak mau membaca Al-Baqarah sampai selesai. Rakaat kedua mau membaca Ali-Imran.”

“Jangan kak!” Rengek Niyala manja.

“Kenapa?”

“Ah kakak, nanti keburu pagi.”

Faiq tersenyum.

Niyala menatapnya dengan penuh cinta.

Di luar kamar purnama memancar terang. Sinarnya yang keperakan menyepuh genting dan pepohonan. Angin mengalir sepoi-sepoi.

Langit cerah. Hawa sejuk perlahan mengirim embun pada rerumputan. Bintang-bintang bertaburan. Sepasang kunang-kunang menari-nari di angkasa. Di iringi tasbih alam, keduanya tampak begitu indah memadu cinta.

TAMAT

 

Karya : Habiburahman El-Shirazi