Halaqah Cinta

danbo_by_sloorth-d4mqqq5

Untukmu calon imamku, ku tulis kisah ini di malam-malamku yang panjang. Bagai goresan getar hati dalam rindu yang tertahan. Untukmu seseorang yang akan menemaniku di masa depan.

Kamu, siapa kamu? Siapa namamu? Dimana kamu berada? Aku menantimu bersama semua pengabdianku yang tertunda. Bersama segenap cinta yang tak akan sempurna bila engkau tak kunjung hadir dihadapanku. Untukmu calon imamku yang aku tidak tahu dimana engkau berada.

Suatu saat bila engkau datang, tolong cintai aku karena Allah. Bimbinglah aku, jadilah imam dalam sholatku. Izinkan bakti dan taatku menyatu bersama senyum di wajah teduhmu. Izinkan cinta dan rinduku terpatri kuat di dalam hati dan fikiranmu.

Untukmu calon imamku yang entah sedang apa, ketahuilah aku ini adalah orang asing untukmu. Nanti, terangkanlah apa-apa yang tidak aku mengerti darimu. Terangkanlah apa-apa yang tidak engkau sukai agar aku dapat mengenalmu secara utuh .

Untukmu calon imamku yang sedang memantaskan dirinya dihadapan Allah, ketahuilah akupun sedang menantimu dalam taat. Menanti untuk menjadi belahan jiwamu, menanti untuk menjadi penyejuk hatimu.

Ya Allah, Aku berdoa untuk seorang laki-laki, yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seorang yang sungguh mencintai Mu lebih dari segala sesuatu. Seorang laki-laki yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang laki-laki yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk Mu.

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai. Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang laki-laki yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang laki-laki yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati dengan kesabaran ketika aku berbuat salah. Seorang yang mencintaiku bukan karena rupa wajahku tetapi karena hatiku. Seorang laki-laki yang dapat menjadi sahabat ketika dekat dan pacar ketika jauh. Seseorang perhatiannya dapat menambah kecintaanku pada Mu.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga Engkau dapat membuat kami bersatu dan sempurna dimata Mu.

Seorang laki-laki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya. Seorang laki-laki yang membutuhkan ridhoku dalam kehidupannya. Seseorang yang membutuhkan bahuku untuk menumpahkan kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Berikanlah padaku hati yang lembut sehingga rupawanku di matanya datang dariMu bukan dari luar diriku. Kuatkan aku sehingga aku selalu mampu menjadi sandara untuknya ketika masalah menimpanya. Bukakan selalu mataku sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja. Anugerahkan l lisan yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari. Rekahkanlah bibir ini dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan betapa kuasanya Engkau. Karena Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.

Stronger

Dunia itu kejam

Itulah kata yang sering kali terucap dari lisan seorang Public Relations, Ogi Wicaksono. beliau mengatakan banyak sekali manipulasi yang ada dalam dunia ini dan salah satunya adalah dimulai dari diri kita sendiri.

Dunia ini tak lagi bersih dan suci, manusialah yang menjadi faktor penyebab ini semua bisa terjadi. kacau, berantakan, tak karuan, suap, korupt, dan masih banyak lagi.


“aku ga ngerti ya kenapa ada orang yang gamau dirinya itu menjadi lebih baik dari sebelumnya? kok masih aja bilang gabisa… masih aja bilang gamau… padahal kan hal tersebut untuk dirinya sendiri, untuk pangkat dirinya, untuk kebaikan dirinya. tak ada yang menyalahkan jika ia salah, karena wajar saja, kesalahan pasti akan ada dan akan selalu ada. tapi ini mah, gamau coba. gimana mau bisa?” -yayah, mahasiswi-

Tuhan, menciptakan manusia salah satunya adalah untuk belajar, apapun. dalam prosesnya Tuhan selalu menempatkan ujian berupa kesalahan, kekesalan, kemurkaan, ketamakan, dll. kita hanya diminta untuk tegar, kuat, sabar dan terus melanjutkannya.

 Banyak dari kita, justru mengabaikan itu, menyerah ditengah perjalanan dan banyak alasan lain sehingga membuat penulis menuliskan ini. Penulis menginginkan, tak satupun pemuda menyerah, coba jika tidak bisa. lakukan jika dirasa takut, lawan jika dirasa akan gagal.

Tubuh kita, Otak kita, Hati kita itu satu jalur dan lajur. Hati kita adalah pemimpinnya. maka jika kita mampu memenej hati kita sebaik mungkin, kemungkiinan besar yang lainnya akan mengikuti.

Tubuh itu bagaikan baterai pada barang elektronik, otak kita bagaikan memory atau hardisk, dan hati kita ibarat software yang ada di komputer kita, semakin banyak virus yang masuk jika tidak dibersihkan maka akan merusak dan menghapus system yang ada pada software.

Jadilah manusia yang selalu membersihkan virus hati, mengecas tubuh, dan menambah file dalam otak setiap harinya setiap jamnya. selalu lakukan itu dan usahakan tidak berhenti.

Sebelum mengoreksi orang lain, maka koreksilah diri sendiri dulu, karena ibarat sebuah laptop yang walaupun satu type, tetap saja isinya berbeda. jangan pernah kau remehkan diri sendiri. jangan pernah kamu menyerah hanya karena hidupmu sulit, hidupmu serasa bodoh.

Yakinlah, ada sisi dimana kamu bisa untuk bangkit, sukses, dan terus sukses.

muhasabah

Dear Allah,

Bismillah…

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis, Menggerakkan tanganku, Menuangkan segala rasaku, Disini. Rindu tangan ini menyentuh keyboard, rindu untuk menitihkan air mata dan menunduk pilu didepan layar laptop, yang sekian lama ku lupakan. Aku sedang tidak mempedulikan apapun di sekitarku. Entah. Kondisi hatiku;membatin.

Sudah terlalu jauh aku dari kenyataan, sastra telah membawaku banyak bermimpi, berkhayal, bersyair, berpuisi, bernyanyi dan bersedih. Karena memakan pahitnya lebah yang telah menghisap maduku sendiri. Begitu gelapnya jalanku, butanya mataku, pening kepala ini. Karena sudah terlalu jauh aku dari Nya.

Betapa ingin aku pergi dari kehidupan ini, cepat menyusul khadijah, aisyah, asiyah, fatimah, zainab, dan semua syahidah Allah. Sayangnya bekalku belum cukup, hutangku masih dimana-mana, baik itu materi ataupun budi. Aku takut neraka namun aku berharap syurga. Ah manusia memang penuh kebimbangan.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah memang memberikan kelemahan kepada manusia yang diantaranya adalah bersifat kikir dan keluh kesah. Terlalu memperhatikan dirinya sendiri sampai lupa akan perhatiannya kepada sekitar itu juga termasuk kikir. Tidak makan demi menghemat yah mungkin itu juga bisa disebut kikir karena Allah telah mengatur kita sampai rezeki untuk makan sekalipun.

Manusia berkeluh kesah. Diberikan ujian ia mengeluh, di berikan nikmat ia resah. Manusia selalu terombang-ambing, pasang-surut, naik-turun iman nya. Mungkin wajar manusia mengeluarkan bahasa “galau” karena begitu dahsyat kebimbangan manusia. Sehingga menghasilkan sesuatu yang bernilai menurut manusia itu sendiri tak tahu di hadapan Allah.

Allah, Kau bagai obat penenang yang menenangkan aku ketika aku sendiri. Melindungiku ketika aku menyebut-nyebutMu, dan kini aku tak rasakan itu. begitukah aku jauh darimu. Ya Allah ampuni hamba.

Mengukir cinta ku tak bisa, mengukir hati pun tak kuasa. Berlari dalam hidup yang tak menentu. Menggapai dunia ku kecewa, menggapai surga aku pun tak kuasa. Akhirnya selalu menangis dan merenung akan dosa lalu.

Ku mengharapkan ketenangan yang datang pada jiwa sampai ku terjaga, ku impikan cinta satu yang datang dalam qalbu sampai ku menunggu sahara di pelupuk senja yang indah bagai surga, fitah rasa cinta. Kepada Mu meminta keindahan dunia dan ketenangan untuk jiwa yang selalu berdo’a.

Allah lah tempat kembali terbaik untuk mu…

10685409_772756056104327_7848721585334069612_n

True Love

Kau berikan aku yang terbaik. Kau sembunyikan sesuatu yang akan membuatku sedih. Kau kabarkan kebahagiaan yang aku tak tahu bahwa sesungguhnya suatu kesedihan mendalam tersimpan dalam hatimu. Kau jadikan aku seorang anak yang hebat, mandiri, dan berprestasi.

Ayah, kau adalah pahlawan ku. Pahlawan ku dalam keadaan apapun. Kau tak sanggup melihat ku menitihkan air mata. Kau tersenyum penuh keikhlasan ketika melihatku bahagia. Rasanya, tak sanggup jika aku harus melihatmu pergi. Betapa khawatirnya diriku jika kau pergi untuk jangka waktu yang lama. Anakmu takut jika kau nanti pergi tak kembali.

Rasanya sakit jika harus mendengar kabar yang tak seharusnya tersampaikan oleh seorang adik. Tidak sepantasnya aku mendapat kabar yang seharusnya aku dapat dari mulut ayahku. Sejuta fikiran menghantui kepala ku. Ribuan bulir air mata berjatuhan mulai menyentuh jilbab dan pipiku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku terdiam. Aku bisu dan selintas fikiranku mulai kosong tanpaNya.

Ibu, jasamu tak pernah bisa aku balas. Aku mengerti. Seorang Ibu tidak pernah meminta anaknya untuk membalas budi Ibunya. Betapa kebahagiaan itu hadir ketika si anak bisa dewasa. Tersenyum dan sukses.

Layaknya sosok Siti Khodijah, Ibu sejati kepada anak-anaknya. Sungguh sulit meng-ibaratkan dirimu wahai ibuku. Karena kaulah insan terpenting dalam hidupku. Tak pernah berkurangnya rasa cintamu padaku. Do’amu selalu sampai padaku. Sayangmu tiada tara dan batas. Aku mencintaimu dengan tulus sebagai anak kepada Ibunya.

Aku tahu, aku jauh dari kata sempurna. Menyayangimu, mencintaimu, menyukaimu,  menghargaimu, menghormati, bersikap sopan dan berbakti padamu. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Anakmu yang tak tahu terimakasih. Anakmu yang belum bisa menuruti semua inginmu. Anakmu yang tak tahu malu. Yang hanya bisa meminta dan meminta.

Aku tahu sifat kalian kepadaku layaknya daun yang jatuh tapi tidak pernah membenci angin. Walaupun angin terus berhembus, menjatuhkan daun, menggugurkannya, menerbangkannya jauh dan meletakan nya di tempat terasing. Daun tetap akan menjadi daun. Yang tak pernah membenci angin.

Bagiku, kau adalah sahabat ketika dirumah dan pacar ketika jauh. Perhatianmu sungguh membuatku menambah kecintaanku padaNya. Dan ketika kau tak lagi seperti pacar ketika kita jauh. Akupun merindukanmu. Sangat merindukanmu.

images (2)

Inikah Jalanku?

 

Biar jatuh ku bangkit semula

Biar lemas ku renangi jiwa

Biar payah ku terus arungi

 

            Bumi yang luas dengan hamparan keindahan yang tiada tara dan manusia dengan seluruh kesempurnaan nya. Kini ku memilih duduk, berfikir, merenung, dan mulai menggerakkan jari-jari yang telah lama tak seperti ini.

            Detik-detik waktu ini kian berlalu, jari-jariku pun tumbuh semakin dewasa saja. Namun sepertinya jiwaku belum dewasa. Orang lain menganggapku dewasa. Yah, Dewasa. It’s what you know. Renungan itu kembali hadir. Begitu banyak sekali kekuranganku yang Engkau tutupi ya Robb. ingin sekali rasanya aku berteriak kepada semua orang bahwa aku ini hanyalah manusia yang “HINA” tanpaMu. Namun suaraku adalah Aurat. Begitu sayangnya Engkau padaku.

            Aibku Engkau tutupi, dosaku Engkau ampuni, hidupku Engkau penuhi, nafasku Engkau beri, makanku Engkau cukupi. Ya Robbi, apalah arti ibadah ku selama ini. Sedang Engkau mengasihiku dari aku lahir ke bumi ini sampai aku bisa seperti ini?.

            Bahkan dengan semua nikmat itu, kadang saja aku masih enggan bersyukur. Aku masih menginginkan ini itu dan lainnya. Keduniawian ya Robb. Padahal Engkau telah janjikan Syurga untukku, jika aku bersyukur.

            Kini, aku dihadiahkan ujian indah olehMu. Hadirnya sosok pemberani yang berniat baik. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya tanpa landasanMu ya Robb. Sedang Engkau adalah pencemburu hebat yang ku tahu. Engkau memasang-masangkan kami sesuai dengan fitrah kami. Naluri ku memlilihMu.

            Aku ingin seperti Robi’atul Adwiyah, yang mengabdikan diri sepenuhnya kepadaMu. Tanpa ku mencintai sosok manusia di dunia. Menghabiskan usia didunia hanya untukMu, sepenuhnya. Tanpa ku memikirkan diriku, sekalipun. Aku ingin hidupku ini hanya untukMu. Aku serahkan seluruh raga dan jiwaku ini untukMu ya Robb.

            Langkah tanganku terhenti di kalimat ini, ragapun menunduk pilu dan bulir-bulir air matapun menetes menyentuh keyboard. Bagaimana mungkin aku bisa? Apa yang harus aku lakukan. mencintaiMu pun rasanya sangat jauh dari kata sempurna. Bagaimana mungkin aku akan menghadirkan sosok itu dan mulai mencintainya. Bagaimana bisa aku mencintainya dan mencintaiMu juga. Ah, aku ingin mencintaiMu saja ya Rabb, SATU hanya ENGKAU.

            Oh Robb, apakah ini yang disebut cinta sejati?

            Cinta yang hanya aku berikan kepadaMu saja. Biarlah Engkau mencintai Kekasih Engkau Muhammad Saw, Musa As dan hamba-hamba yang jua mencintaiMu, Tuhannya. Aku tak peduli seberapa banyak makhluk yang mencintaiMu dengan tulus. Aku hanya ingin menyerahkan diriku untukMu dan aku yakin Engkau tahu akan hal ini. Betapa cintaNya aku padaMu. Aku hanya berharap, aku bisa bertemu Engkau, hanya itu.

 

2014-01-23 11.48.20

“Wisata Horor”

(sambil mendengarkan backsound nightmare side…)

            Setelah traveling itu aku mendapat ilham untuk meneruskann salah satu hobiku yaitu menulis. Dan sepertinya ini aliran baru tulisanku. Horor, ya. Sangat menarik.

            Cerita ini, diambil dari kisah nyata. Perjalananku selama di garut. Tepatnya, kecamatan banyuresmi menuju talaga bodas yang katanya berjarak kurang lebih 15 km. Ternyata itu semua berasa bohong banget. Perjalanan yang aku lewati bersama rekanku nenden. Memakan waktu sekitar 3 jam. Percaya?. Karena aku yang nyetir, Aku terus memperhatikan spidometer yang belakangan ini baru hidup lagi. Dan aku berkata-kata dalam hati “sepertinya ini jalan sudah lebih dari 15 km deh, udah jauh banget”.

            Keadaan cuaca dalam perjalanan menuju talaga bodas pun semakin parah. Entah berapa celcius lebih dingin dari cuaca daratan garut yang katanya saja sudah dingin. Kami berbincang selama perjalanan itu. Dan kami rasa kami sudah kehabisan hal perbincangan karena sudah saking lamanya kami dalam perjalanan tersebut. Sambil sesekali kami memperhatikan pemandangan.

Jalan menuju talaga bodas begitu menanjak. Tidak ada jalan datar untuk menuju kesana. Jadi kalau kesana pake motor, jangan pernah berhenti nge-gas dan jangan lupa dengan rem yang pakem. Belum lagi dengan tipe jalan yang ber-variasi. Beberapa km pertama jalan nampak sangat mulus. Lanjut beberapa km berikutnya sudah nampak beberapa lubang-lubang yang sepertinya bekas tapak truk ataupun mobil besar. Beberapa km berikutnya lagi tak ada aspal, tak ada lubang. Yang ada hanya batu-batuan besar. Yang jikalau kami tidak berhati-hati sekali. Ban motor kami akan robek dan terbeset-beset. Bayangkan? that’s memacu adrenalin banget bro !

            Semakin menanjak keatas semakin jarak pandangku untuk terus melaju juga terbatas. karena Kabut yang tebal dan sangat lebat. bahkan sampai membuahkan setitik-dua titik air yang jatuh.

            Aku-pun memutuskan untuk mengenakan jas hujan, karena layaknya seperti hujan es. Dan angin yang sangat dingin menghembus menepuk punggungku. Sangat dingin. Tangan terlihat biru, kaku dan basah. Aku tidak tahu berapa derajatkah cuaca dalam kondisi seperti  ini. Tapi yang pasti ini lebih diatas 15 derajat.

            Kami berusaha menutupi rasa dingin dengan berbicara, dan melihat-lihat pemandangan yang tidak biasa kami lihat. Ada jurang, ada rumah terselimuti kabut tak berpenguni, ada anjing kemudian menghilang, ada kebun-kebun rindang yang terkena badai kabut. Semua itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Dan membuat kami didalam hati menjerit “kita kan mau wisata, kok jadi ketakutan begini ya”.

            Kami hampir putus asa, karena jalan yang kami tempuh pun tak sampai-sampai. Motor sudah haus. Kami pun haus minuman hangat. Namun dengan begitu tetap saja aku terus menge-gas dengan stanbay 30-40 km/jam.

Sekelibat pandangan, aku menemukan kubuk-kubuk yang kosong. ada juga kubuk toko yang buka dan aku bisa lihat sachet-sachet minuman yang sepertinya terasa nikmat jika diseduh oleh air panas. Namun, timbul pertanyaan besar “penjual nya mana ya?” seketika kabut menutupi kubuk dengan tebalnya. Dan angin dingin nan beku mengibasi daku. Aku pun berpaling keheranan.

            Aku berhenti, karena ada palang hijau menandakan petunjuk. Dan kami akan sampai. Kami berhenti di pertigaan lalu mengambil arah lurus untuk sampai talaga bodas. Kami pun semangat karena sebentar lagi kami akan sampai. Senyum lebar dalam hati yang berbisik “semoga tak terjadi apa-apa ketika sampai disana”.

            Tak disangka ternyata perjalanan masih sangat panjang. Dan sepertinya kami mulai memasuki hutan. Hutan? Ya, mungkin. Karena kami tak melihat apapun dan seorang pun disini kecuali Pepohonan besar lebat tinggi dan kami. Urat nadi mulai kencang. Mata mulai membelalak. Dan jantung mulai berdebar keras dan cepat. Menandakan ada sesuatu yang tidak lazim.

            Masih dalam perjalanan, kami menemukan jalan yang pelok. Tertampak bekas tapak truk. Nenden pun turun dan mengecek apakah bisa dilewati atau tidak. Dan aku berusaha melewati lintasan nan lembek itu. Dan akhirnya berhasil.

            Aku kira setelah dari jalan pelok itu akan segera sampai. Namun, jalan yang kami lewati masih jauh lagi ternyata. Aku terus menarik gas dan terus menanjak penuh harapan bayangan akan talaga bodas yang indah.

            Aku dan nenden semakin merasa keheranan dan aneh. Mengapa tak kunjung sampai perjalanan kita ini. Dan yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan kabut tebal yang menghalangi pandangku.

            Kemudian, kami sampai pada titik jenuh. Kami lelah, terlalu jauh perjalanan kami ini. Kami merasa melewati satu gunung besar. Berkelok-kelok pohon besar nan berkabut tebal berbising suara seperti serigala meraung-raung. Menjadikan aku dan nenden berfikir keras dan bulu-bulu tangan berdiri seketika.

            Kami berhenti pada palang bertuliskan hastag “#TLG2”. “huhh, Alhamdulillah sampai”. Kami langsung memutuskan untuk berdiri dari duduk kami selama itu. Kami pun mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar pemandangan disana. Namun yang menjadi keanehan, kami melihat portal kuning menghalangi jalan kami masuk. Kami tidak bisa melihat talaga bodas yang sesuai dengan ekspetasi kami.

            Beberapa menit kemudian, kami merasakan ada hal yang aneh. Angin yang semakin berhembus kencang menandakan ada yang tidak beres. Dengan keberadaan kami disini. Dan tanpa pikir panjang, nenden berkata “sar, pulang yu sar”. Dan tanpa berdiam dahulu akupun menuruti perkataannya dan membelokkan motor kemudian mulai turun.

            Kali ini Nenden mencoba membawa motor. karena aku menampakan wajah lelah serta terlihat biru pada tanganku karena dingin.

Dalam perjalanan pulang, kami tiba-tiba diiringi oleh dua motor yang dinaiki orang bertopi seperti Pak tani dan Bu tani. Namun mereka tidak melengokkan muka sekalipun kearah kami. Padahal kami sangat berisik, kami berbincang sepanjang perjalanan, tertawa bahkan kami menyalakan music dengan volume maksimal saking merinding dan takutnya. Berusaha untuk mencairkan suasana meskipun cuaca itu semakin membekukan.

            Kepuasan itu sepertinya tidak kami dapatkan, namun kami bersyukur bahwa yang namanya kesabaran, keyakinan, keberanian dan keteguhan itu harus kami pegang dimanapun kami berada.

            Dari jauh nampak seorang Pak tani berdiri dan motor yang ter-standar miring. Ketika kami berjalan terus mendekat semakin mendekat, kabut tebal menutupi pandangan kami. Seketika Pak tani menghilang. Motor tetap ada dalam keadaan seperti itu. “ada apa gerangan?” kami sangat heran kesekian kalinya.

            Kami kembali mencoba membawa suasana hati sambil tertawa, merekan moment langka ini dengan video, mendengarkan musik dengan volume maksimal, dan banyak lagi.

            Ditengah perjalanan aku teringat pada bola mata cadanganku. Ya, Kacamataku. Kemana dia? Aku paksa nenden untuk berhenti. Dan untuk kesekian kalinya kami heran. di tempat kami berhenti ramai. Ada truk, Pak tani, Buk tani dan motor racing “2 tak” bersuara keras sedang lewat.

            Aku memeriksa tasku, jaket, kantong, dan segala tempat penyimpanan. Mencoba mengingat benda berharga itu. Nihil. Aku blank. akupun membujuk nenden untuk kembali ke atas, meskipun terasa tak mungkin. Nenden dengan raut muka takut dan yakin akan selamat itu pun mulai memutarkan motor ke arah atas. Aku terus berusaha mengingat dan bertanya pada Allah “dimana kacamataku ya Robb?”.

            Perjalanan panjang itu kini berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bacaan “#TLG2”. Kami mencari dan meraba tanah-tanah yang ada disana. Namun, Nihil. Tak ada tanda-tanda kacamataku berada disana. “hufft” aku mencoba Ikhlas, dan meyakinkan diri bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kami pun kembali meluncur.

            Aku sudah tak lagi peduli dan memikirkan kacamata itu. yang aku fikirkan adalah bagaimana perjalanan pulang aku dari garut sampai jatinangor tanpa bantuan alat melihat itu?. apalagi dengan berkendaraan, berapa banyak lubang yang membahayakan keselamatanku jika aku tak memperhatikannya.

            Secara diam-diam ternyata nenden memperhatikan setiap jalan menurun yang kami lewati. Aku pun tak tahu sebelumnya. Pantas saja ia mengendarai motor dengan lamban. Aku terus berfikir positif, menenangkan diri, berfikir hal lain. Ya, layaknya aku tak disini saat ini.

            Kami melewati beberapa kelok-kelokan jalan. Palang hijau itu kami temukan lagi dan kami melewati sedikit perempatan berkelok lalu berhenti seketika. “sar, itu kacamata kamu” nenden dengan ekspresi santainya. “Apa? Masa? Mana?” aku takut. Aku merasakan ada hal mistis. Aku memperhatikan sekeliling jalan kelok perempatan itu sejenak sebelum memperhatikan apa yang ditunjuk oleh nenden. Terlihat saung-saung yang terbuka, terdapat pajangan sachet minuman. Namun keanehannya adalah tak ada orang satupun. Aku memutar pandanganku dan yang ku lihat hanyalah kabut tebal ditambah dengan mataku yang cacat. Hanya 1 meter jarak kejelasan pandangku.

            Aku memberanikan diri untuk melengok dan turun dari motor. Aku melihat kacamatku dari jarak 1 meter itu. aku tak langsung mengambilnya. Aku memperhatikan sejenak dan memandangnya penuh harap seakan tak percaya bahwa yang aku lihat adalah kacamataku. “ambil sar” nenden tergesa. Kabut semakin tebal. Angin semakin dingin. Dan aku, masih tak percaya akan semua kejadian hari ini.

            Kacamata itu terletak pada tanah dan bebatuan yang teratur, tidak terbalik, tidak terbuka, tidak cacat apapun. Seperti ada tangan yang meletakan disana. Sungguh sangat mengherankan.

            Kami kembali melakukan perjalanan pulang dan aku menggenggam erat kacamataku. Berfikir keras, menerawang dalam-dalam, bahkan sesekali melamun. Sepanjang perjalanan nenden berbicara, dan jujur saja aku tak menyimak. Karena kacamataku telah membuat fikiranku melayang-layang terbang.

Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu 30 menit. Betapa kami tidak sangat heran. Banyak pemandangan yang tak kami temukan ketika pulang. Kemana jalan panjang yang kami lewati di awal perjalanan? Kemana jalan kelok-kelok nan penuh kabut itu? kemana kebun-kebun indah, rumah-rumah tak berpenghuni, saung-saung kosong, dan tanaman-tanaman indah itu?

            Fikiran kami diselimuti kabut tebal, kepala kami telah dikuasai gunung, dan kaki kami kaku pada belokan patah jalan menurun itu. kami memutuskan untuk berhenti dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara puas. Satu-satunya jalan kelok yang kami lihat pada saat pulang dan pergi ya hanya ini. Kami heran. Namun kami selimuti itu semua dengan mencoba mengabadikan diri kami dengan jalan ini.

            Nenden mulai bertingkah aneh. Mengenakan jas hujan dan mulai berpose. Akupun mulai mengambil potret pemandangan gunung dan  sawah yang terliat dari jauh seperti pelangi. Kami narsis bersama, selfie bersama dan menarik nafas panjang bersama. Memastikan apakah masih terdapat kabut atau tidak.

            Senyuman mulai terpoles, terik matahari mulai menyengat menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Melepaskan urat-urat yang tegang memang bukan perkara mudah. Dan kami bisa melakukan nya setelah kabut itu pergi.

            Selanjutnya kami melakukan perjalanan kembali dan melewati berbagai jenis jalan. Menurun, berkelok, bebatuan, berlubang dan masih banyak lagi.

            Yang kami heran, ketika kami turun rasanya cepat sekali kami sampai pada ujung jalan. Mungkin karena jalannya yang menurun jadi tidak terasa. Namun ada beberapa hal yang terbesit dalamm fikiran kami. Dan kami terus terdiam sampai pada rumah Nenden di Banyuresmi, Garut.

            Keanehan itu membuat kami banyak bengong, dan menerawang jauh ke bukit dan gunung-gunung berkabut. Kami tersadar, dan kemudian mencoba mengambil air wudhu dan sholat. Karena hanya itu yang bisa membuat kami tenang.

Alhamdulillah, kuasaMu memang tak ada batasnya. Pantas saja seorang hamba wajib bersyukur sampai akhir hayatnya dan tanpa perhitungan kesyukuran. Apapun yang terjadi kemaha agunganMu lah yang maha tinggi setinggi tingginya.

2014-01-23 11.48.20

“Wisata Horor”

(sambil mendengarkan backsound nightmare side…)

            Setelah traveling itu aku mendapat ilham untuk meneruskann salah satu hobiku yaitu menulis. Dan sepertinya ini aliran baru tulisanku. Horor, ya. Sangat menarik.

            Cerita ini, diambil dari kisah nyata. Perjalananku selama di garut. Tepatnya, kecamatan banyuresmi menuju talaga bodas yang katanya berjarak kurang lebih 15 km. Ternyata itu semua berasa bohong banget. Perjalanan yang aku lewati bersama rekanku nenden. Memakan waktu sekitar 3 jam. Percaya?. Karena aku yang nyetir, Aku terus memperhatikan spidometer yang belakangan ini baru hidup lagi. Dan aku berkata-kata dalam hati “sepertinya ini jalan sudah lebih dari 15 km deh, udah jauh banget”.

            Keadaan cuaca dalam perjalanan menuju talaga bodas pun semakin parah. Entah berapa celcius lebih dingin dari cuaca daratan garut yang katanya saja sudah dingin. Kami berbincang selama perjalanan itu. Dan kami rasa kami sudah kehabisan hal perbincangan karena sudah saking lamanya kami dalam perjalanan tersebut. Sambil sesekali kami memperhatikan pemandangan.

Jalan menuju talaga bodas begitu menanjak. Tidak ada jalan datar untuk menuju kesana. Jadi kalau kesana pake motor, jangan pernah berhenti nge-gas dan jangan lupa dengan rem yang pakem. Belum lagi dengan tipe jalan yang ber-variasi. Beberapa km pertama jalan nampak sangat mulus. Lanjut beberapa km berikutnya sudah nampak beberapa lubang-lubang yang sepertinya bekas tapak truk ataupun mobil besar. Beberapa km berikutnya lagi tak ada aspal, tak ada lubang. Yang ada hanya batu-batuan besar. Yang jikalau kami tidak berhati-hati sekali. Ban motor kami akan robek dan terbeset-beset. Bayangkan? that’s memacu adrenalin banget bro !

            Semakin menanjak keatas semakin jarak pandangku untuk terus melaju juga terbatas. karena Kabut yang tebal dan sangat lebat. bahkan sampai membuahkan setitik-dua titik air yang jatuh.

            Aku-pun memutuskan untuk mengenakan jas hujan, karena layaknya seperti hujan es. Dan angin yang sangat dingin menghembus menepuk punggungku. Sangat dingin. Tangan terlihat biru, kaku dan basah. Aku tidak tahu berapa derajatkah cuaca dalam kondisi seperti  ini. Tapi yang pasti ini lebih diatas 15 derajat.

            Kami berusaha menutupi rasa dingin dengan berbicara, dan melihat-lihat pemandangan yang tidak biasa kami lihat. Ada jurang, ada rumah terselimuti kabut tak berpenguni, ada anjing kemudian menghilang, ada kebun-kebun rindang yang terkena badai kabut. Semua itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Dan membuat kami didalam hati menjerit “kita kan mau wisata, kok jadi ketakutan begini ya”.

            Kami hampir putus asa, karena jalan yang kami tempuh pun tak sampai-sampai. Motor sudah haus. Kami pun haus minuman hangat. Namun dengan begitu tetap saja aku terus menge-gas dengan stanbay 30-40 km/jam.

Sekelibat pandangan, aku menemukan kubuk-kubuk yang kosong. ada juga kubuk toko yang buka dan aku bisa lihat sachet-sachet minuman yang sepertinya terasa nikmat jika diseduh oleh air panas. Namun, timbul pertanyaan besar “penjual nya mana ya?” seketika kabut menutupi kubuk dengan tebalnya. Dan angin dingin nan beku mengibasi daku. Aku pun berpaling keheranan.

            Aku berhenti, karena ada palang hijau menandakan petunjuk. Dan kami akan sampai. Kami berhenti di pertigaan lalu mengambil arah lurus untuk sampai talaga bodas. Kami pun semangat karena sebentar lagi kami akan sampai. Senyum lebar dalam hati yang berbisik “semoga tak terjadi apa-apa ketika sampai disana”.

            Tak disangka ternyata perjalanan masih sangat panjang. Dan sepertinya kami mulai memasuki hutan. Hutan? Ya, mungkin. Karena kami tak melihat apapun dan seorang pun disini kecuali Pepohonan besar lebat tinggi dan kami. Urat nadi mulai kencang. Mata mulai membelalak. Dan jantung mulai berdebar keras dan cepat. Menandakan ada sesuatu yang tidak lazim.

            Masih dalam perjalanan, kami menemukan jalan yang pelok. Tertampak bekas tapak truk. Nenden pun turun dan mengecek apakah bisa dilewati atau tidak. Dan aku berusaha melewati lintasan nan lembek itu. Dan akhirnya berhasil.

            Aku kira setelah dari jalan pelok itu akan segera sampai. Namun, jalan yang kami lewati masih jauh lagi ternyata. Aku terus menarik gas dan terus menanjak penuh harapan bayangan akan talaga bodas yang indah.

            Aku dan nenden semakin merasa keheranan dan aneh. Mengapa tak kunjung sampai perjalanan kita ini. Dan yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan kabut tebal yang menghalangi pandangku.

            Kemudian, kami sampai pada titik jenuh. Kami lelah, terlalu jauh perjalanan kami ini. Kami merasa melewati satu gunung besar. Berkelok-kelok pohon besar nan berkabut tebal berbising suara seperti serigala meraung-raung. Menjadikan aku dan nenden berfikir keras dan bulu-bulu tangan berdiri seketika.

            Kami berhenti pada palang bertuliskan hastag “#TLG2”. “huhh, Alhamdulillah sampai”. Kami langsung memutuskan untuk berdiri dari duduk kami selama itu. Kami pun mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar pemandangan disana. Namun yang menjadi keanehan, kami melihat portal kuning menghalangi jalan kami masuk. Kami tidak bisa melihat talaga bodas yang sesuai dengan ekspetasi kami.

            Beberapa menit kemudian, kami merasakan ada hal yang aneh. Angin yang semakin berhembus kencang menandakan ada yang tidak beres. Dengan keberadaan kami disini. Dan tanpa pikir panjang, nenden berkata “sar, pulang yu sar”. Dan tanpa berdiam dahulu akupun menuruti perkataannya dan membelokkan motor kemudian mulai turun.

            Kali ini Nenden mencoba membawa motor. karena aku menampakan wajah lelah serta terlihat biru pada tanganku karena dingin.

Dalam perjalanan pulang, kami tiba-tiba diiringi oleh dua motor yang dinaiki orang bertopi seperti Pak tani dan Bu tani. Namun mereka tidak melengokkan muka sekalipun kearah kami. Padahal kami sangat berisik, kami berbincang sepanjang perjalanan, tertawa bahkan kami menyalakan music dengan volume maksimal saking merinding dan takutnya. Berusaha untuk mencairkan suasana meskipun cuaca itu semakin membekukan.

            Kepuasan itu sepertinya tidak kami dapatkan, namun kami bersyukur bahwa yang namanya kesabaran, keyakinan, keberanian dan keteguhan itu harus kami pegang dimanapun kami berada.

            Dari jauh nampak seorang Pak tani berdiri dan motor yang ter-standar miring. Ketika kami berjalan terus mendekat semakin mendekat, kabut tebal menutupi pandangan kami. Seketika Pak tani menghilang. Motor tetap ada dalam keadaan seperti itu. “ada apa gerangan?” kami sangat heran kesekian kalinya.

            Kami kembali mencoba membawa suasana hati sambil tertawa, merekan moment langka ini dengan video, mendengarkan musik dengan volume maksimal, dan banyak lagi.

            Ditengah perjalanan aku teringat pada bola mata cadanganku. Ya, Kacamataku. Kemana dia? Aku paksa nenden untuk berhenti. Dan untuk kesekian kalinya kami heran. di tempat kami berhenti ramai. Ada truk, Pak tani, Buk tani dan motor racing “2 tak” bersuara keras sedang lewat.

            Aku memeriksa tasku, jaket, kantong, dan segala tempat penyimpanan. Mencoba mengingat benda berharga itu. Nihil. Aku blank. akupun membujuk nenden untuk kembali ke atas, meskipun terasa tak mungkin. Nenden dengan raut muka takut dan yakin akan selamat itu pun mulai memutarkan motor ke arah atas. Aku terus berusaha mengingat dan bertanya pada Allah “dimana kacamataku ya Robb?”.

            Perjalanan panjang itu kini berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bacaan “#TLG2”. Kami mencari dan meraba tanah-tanah yang ada disana. Namun, Nihil. Tak ada tanda-tanda kacamataku berada disana. “hufft” aku mencoba Ikhlas, dan meyakinkan diri bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kami pun kembali meluncur.

            Aku sudah tak lagi peduli dan memikirkan kacamata itu. yang aku fikirkan adalah bagaimana perjalanan pulang aku dari garut sampai jatinangor tanpa bantuan alat melihat itu?. apalagi dengan berkendaraan, berapa banyak lubang yang membahayakan keselamatanku jika aku tak memperhatikannya.

            Secara diam-diam ternyata nenden memperhatikan setiap jalan menurun yang kami lewati. Aku pun tak tahu sebelumnya. Pantas saja ia mengendarai motor dengan lamban. Aku terus berfikir positif, menenangkan diri, berfikir hal lain. Ya, layaknya aku tak disini saat ini.

            Kami melewati beberapa kelok-kelokan jalan. Palang hijau itu kami temukan lagi dan kami melewati sedikit perempatan berkelok lalu berhenti seketika. “sar, itu kacamata kamu” nenden dengan ekspresi santainya. “Apa? Masa? Mana?” aku takut. Aku merasakan ada hal mistis. Aku memperhatikan sekeliling jalan kelok perempatan itu sejenak sebelum memperhatikan apa yang ditunjuk oleh nenden. Terlihat saung-saung yang terbuka, terdapat pajangan sachet minuman. Namun keanehannya adalah tak ada orang satupun. Aku memutar pandanganku dan yang ku lihat hanyalah kabut tebal ditambah dengan mataku yang cacat. Hanya 1 meter jarak kejelasan pandangku.

            Aku memberanikan diri untuk melengok dan turun dari motor. Aku melihat kacamatku dari jarak 1 meter itu. aku tak langsung mengambilnya. Aku memperhatikan sejenak dan memandangnya penuh harap seakan tak percaya bahwa yang aku lihat adalah kacamataku. “ambil sar” nenden tergesa. Kabut semakin tebal. Angin semakin dingin. Dan aku, masih tak percaya akan semua kejadian hari ini.

            Kacamata itu terletak pada tanah dan bebatuan yang teratur, tidak terbalik, tidak terbuka, tidak cacat apapun. Seperti ada tangan yang meletakan disana. Sungguh sangat mengherankan.

            Kami kembali melakukan perjalanan pulang dan aku menggenggam erat kacamataku. Berfikir keras, menerawang dalam-dalam, bahkan sesekali melamun. Sepanjang perjalanan nenden berbicara, dan jujur saja aku tak menyimak. Karena kacamataku telah membuat fikiranku melayang-layang terbang.

Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu 30 menit. Betapa kami tidak sangat heran. Banyak pemandangan yang tak kami temukan ketika pulang. Kemana jalan panjang yang kami lewati di awal perjalanan? Kemana jalan kelok-kelok nan penuh kabut itu? kemana kebun-kebun indah, rumah-rumah tak berpenghuni, saung-saung kosong, dan tanaman-tanaman indah itu?

            Fikiran kami diselimuti kabut tebal, kepala kami telah dikuasai gunung, dan kaki kami kaku pada belokan patah jalan menurun itu. kami memutuskan untuk berhenti dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara puas. Satu-satunya jalan kelok yang kami lihat pada saat pulang dan pergi ya hanya ini. Kami heran. Namun kami selimuti itu semua dengan mencoba mengabadikan diri kami dengan jalan ini.

            Nenden mulai bertingkah aneh. Mengenakan jas hujan dan mulai berpose. Akupun mulai mengambil potret pemandangan gunung dan  sawah yang terliat dari jauh seperti pelangi. Kami narsis bersama, selfie bersama dan menarik nafas panjang bersama. Memastikan apakah masih terdapat kabut atau tidak.

            Senyuman mulai terpoles, terik matahari mulai menyengat menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Melepaskan urat-urat yang tegang memang bukan perkara mudah. Dan kami bisa melakukan nya setelah kabut itu pergi.

            Selanjutnya kami melakukan perjalanan kembali dan melewati berbagai jenis jalan. Menurun, berkelok, bebatuan, berlubang dan masih banyak lagi.

            Yang kami heran, ketika kami turun rasanya cepat sekali kami sampai pada ujung jalan. Mungkin karena jalannya yang menurun jadi tidak terasa. Namun ada beberapa hal yang terbesit dalamm fikiran kami. Dan kami terus terdiam sampai pada rumah Nenden di Banyuresmi, Garut.

            Keanehan itu membuat kami banyak bengong, dan menerawang jauh ke bukit dan gunung-gunung berkabut. Kami tersadar, dan kemudian mencoba mengambil air wudhu dan sholat. Karena hanya itu yang bisa membuat kami tenang.

Alhamdulillah, kuasaMu memang tak ada batasnya. Pantas saja seorang hamba wajib bersyukur sampai akhir hayatnya dan tanpa perhitungan kesyukuran. Apapun yang terjadi kemaha agunganMu lah yang maha tinggi setinggi tingginya.