15.04

Aku duduk, agak sedikit melengkung. Sengaja dan kamu tahu kenapa? Karena aku sedang malas. Ya, malas untuk menegakkan dudukku. Biarlah ini hanya sesaat setelah 15:04 sampai nanti aku beranjak sholat ashar dan pergi.

Aku berkalungkan syal al-mushlih, masihku ingat amanah yang menumpuk itu. ah, rasanya aku tak kuasa meyelesaikannya. Kembali pada golongan darah O, positif pasti bisa. Walaupun bukan aku yang melakukannya. Ha.

Pernah ku katakan, ada dunia yang akan lebih indah lagi jika dinikmati. Dalam hati. Dunia apa? Dunia alam bawah sadar. Oya? Karena kita bisa sebebas mungkin berkreasi tanpa membatasi fikiran mordenisme ataupun postmordenisme yang baru aku ketahui ilmunya kemarin.

Kacamata, aku ingin melepaskanmu. Tapi aku takut kamu rindu denganku. Namun sungguh aku bosan denganmu. Ingin putus dengan mu. Dan tidak ingin cari penggantimu, lagi.

Telingaku, tetaplah sehat sampai aku bisa menikmati full albumnya harris j yang pada saat 15 tahun ia sudah hafal 30 juz dalam Al-Qur’an. keren kan? Tetaplah menjadi penikmat pendengar yang bisa membuat sekujur tubuhku terileksasi olehmu. Tetaplah begitu hingga nanti mataku meminta untuk beristrahat sebentar kemudian mulai untuk menikmatinya lagi.

Tanganku, ku harap kau tak bosan bergerak ya, ku harap begitu. Aku janji akan putihkanmu dalam waktu beberapa bulan kedepan. Aku janji akan merawatmu. Memakaikan kamu sarung tangan ketika bepergian, mengolesimu handbody sehabis mandi, aku janji aku akan berubah. Ingatkan aku ya jikaku lupa akan hal itu. eh jangan banyak janji deng, nanti ga di tepati. jadi aku cabut aja janjiku. mungkin cuma rencana untuk berjanji, saja.

 

22 Random

Lelah dirasa dia, sudah jauh perjalanan menuju jakarta macet pula akhirnya. Dia merasa letih membawa laptop yang berisikan besi paten oye yang dijamin ketika laptop itu diban-ting maka dunia akan baik baik sa-ja. Percaya? Yaiyalah dunia mereka baik baik sa-ja. Tetapi dunianya? Hancur berkeping cepe dan gope karena laptop pemberian ayahnya hancur berpuing puing. Ah, tapi itu takkan mungkin dia lakukan, belum beres kuliah soalnya.

Tak tik tuk detik terus berjalan selama itu dia terus mengendarai motor dan dia berniat mau nitipin motornya di tempat penitipan. Bukan deng, itu mah bukan tempat penitipan. Wong gratis dan tetehnya baik hati banget, bangetnya banyak. Lebih tepatnya teteh itu baik ngebolehin dia parkir semaunya hari berganti hari bulan berganti bulan dan bayarnya gausah. Tapi kali ini Cuma hari berganti hari saja ga nyampe bulan. Satu hal yang suka dilupain adalah kunci motornya selalu kebawa, padahal niatnya mau dititipin ke si teteh yang baik banget itu. kalo si teteh itu baca, pasti dia senyum senyum sendiri deh jadinya. Gabisa dipinjem jatohnya, kan sakit.

Dag dig dug jantung terus bergerak mengikuti langkah kaki yang teramat cepat, memompa jantung lebih cepat dag dig dug dari biasanya. Sesuatu yang ga mau dibilang beban pun terasa semakin berat. Dia sengaja melonggarkan tali tas itu agar bokongnya juga dapat ambil bagian dari menahan beratnya yang ga mau dibilang beban itu.

Naik naik naik lagi sekali dan dia bersiap mencari tempat duduk yang pas versinya. Celingak celinguk dulu agak lama padahal di belakang dia masih ada banyak orang antri yang seakan dia bilang ke orang orang yang antrinya itu “sabar, bagian gue dulu dapet bagian duduk”. Ngeliat ke belakang kayanya tekstur wajah agak keriput, perut agak menonjol kedepan, dan muka mukanya sih kebapakan gitu, tapi gak tahu si ibunya dimana soalnya mereka semua masing masing. Dia mulai mengambil keputusan untuk duduk disebelah ibu ibu yang sebelahnya lagi perempuan yang kayanya masih muda pake masker pake headset pasti deh yang muda selalu kaya gitu jadi aja kalo dia senyumin, dia gatau kalau si perempuan muda itu bales senyumin lagi atau engga. Ahh, akhirnya bisa duduk ditengah dihimpit sama seorang ibu dan seorang perempuan muda. Yeyy, gapapa lah dari pada dia duduk dengan sosok berkumis atau berjenggot lebih mainstreamnya sih yang kebapakan gitu. Bahaya, dia cantik dan manis katanya.

Sudah hampir 3 jam mungkin lebih dia duduk dan bertelak sampai si tangan dia gak bisa digerakin. Wow! Sudah begitu dia terkaget karena ibu yang disebelahnya itu mendadak muda dan ganti baju. Eh ternyata si ibu itu sudah turun duluan setelah dia tanya kenapa ibu jadi muda lagi. Dan ternyata si mendadak muda ini ngigau dan kepalanya disenderin ke bahunya. Untung si mendadak muda ini pake jilbab dan udah pasti dong perempuan. Alhamdulillah aja bawaannya.

Tambah 2 jam lagi belum keluar tol juga. Duh, dia layaknya kucing yang udah kebanyakan tidur. Kaya gimana dah tuh mukanya? Gak kebayang kan? Sama dia juga ga kebayang sampe ngaca aja males. Tapi biarpun gitu. Katanya dia masih cantik walaupun manisnya udah berubah asem asem dikitlah, Cuma dikit kok.

Turun turun turun lagi, Ah! Menginjak aspal jakarta dan berjalanlah si dia mencari cahaya lampu busway. Panas ya sekitar tiga puluh tiga derajatlah. Udah mah dia pake jaket tambahlah gerah dirasa. Pake masker supaya cantik dan baru bangun tidur kayak kucingnya gak keliat. Aha ngeluarin kartu busway yang agak linglung cara makenya gimana. Bukan karena gak bisa, tapi karena efek bangun tidur kucing tadi menyebabkan pegawai busway senyum senyum dibuatnya. Bukannya bantuin deh.

Duk tak duk tak bunyi bass musiknya terdengar keras sampai si mas penjaga busway ngomong dia gak denger, untung dia ngikut mba mba yang disebelahnya. Terus nanya “priuk mas?” “ya”(ngangguk). Sejatinya dia Cuma lihat kinestetik dari masnya itu. dan ah, dapet duduk.

Zzzz, dia tidur selama kurang lebih satu jam dong sampe melewati halte yang harusnya dia turun di plumpang. Ini mah sudah sampai halte walikota jakarta utara dan dia syok. Turunlah dia disitu dan gelap. Dia terus jalan kaki sampai menemukan halte untuk duduk dan menunggu berharap angkot segera menjemputnya. Mau duduk tapi ragu deh dia, gelap banget. Berdiri dan celingak celinguk, ada motor berhenti memperhatikan dirinya. Pura puralah dia nerima telfon. Licik tapi boleh juga idenya. Angkot ga berhenti ternyata. Malah ngebut. Wah ini mah dia harus lambaikan tangan setinggi tingginya sambil jalan lawan arah. Dilakukanlah olehnya seperti instruksi sebelum huruf ini.

Jek jek jek lagi, naik dan duduklah dia di angkot. Kali ini di buka masker karena saking muaknya menahan udara bebas. Dia hirup sepanjang panjangnya dan dia tutup kembali maskernya ibarat gak ada udara lagi setelah pake masker, padahal masih bisa nafas. Sebelahnya ada pemuda yang akhirnya ngeliatin terus duh karena masker udah dibuka kedoknya jadi ketauan cantiknya, mudah mudahan gak ketahuan juga muka bangun tidur kucingnya deh. Bahaya juga.

Hem hem hem, senyum sinis dan pura pura jahat gitu dilakuin dia. Lagi lagi jurus pura pura menelpon dia lakukan. Gini nih percakapan yang ceritanya telponan sama temen jahatnya.

-dia : “halo, eh gimana si eta? Nangis teu? Sukurin lah kalo gitu haha cuih banget gue mah jijik amit amit. “apah? Gak denger yang jelas dong kalo nelpon!” “heh, denger gak sih!” “woy, ah elahhh!” “yaudah entar aja nelponnya bentar lagi nyampe!” tit. Pura pura menutup telpon.

Itu pura pura, biar skenarionya jadi si calon korban mengelabui pelaku. Berharap mereka ga berani ngapa ngapain dia di angkot yang gelap itu. dan akhirnya dia bilang “Bang, depan turun” eh si abangnya nurunin dia tepat disaat dia bilang gitu. Padahal belum sampe depan.  Dia fikir yes berhasil si abang aja sampe takut nurunin disini kan. Yaaa, yuhu deh.

Turun deh dia dan jalan kaki sampe depan pager rumahnya, terus teriak teriak kecil karena kehausan, untung gak lama langsung dibukain pagernya kalo engga bisa putus pita suaranya dan juga tetangga akan keluar ngasih selimut untuk tidur di luar.

Yah, gitu deh dia mah emang suka ada ada aja tingkahnya. Begitu adanya dia. Semoga pembaca gak ngetawain dia sampe sakit perut. Gak geleng geleng sampe pusing juga.

12:00

Aku bukan Tuhan, yang bisa memenuhi apapun kemauan perasaanmu.

Tidak ada kata sensitif bagi seseorang yang hebat.

Bahkan menemukan banyak ketimpangan yang seharusnya ia bersyukur tak menghampirinya.

Kelapang dadaan saja lah harusnya ia lakukan.

Dan tanpa kelalaian ia terus melanjutkan hidup yang memang seharusnya ia hadapi.

Berat memang. Sulit apalagi. Tapi semua itu memang harus disikapi dengan sebuah jiwaan di wadahi yang besar.

Aku tahu, Tuhan gak pernah bercanda. Tuhan gak pernah main-main.

Tapi apalah arti keseriusan ku ini untuk sebuah kehidupan yang harusnya dinikmati.

Aku bukan Tuhan, yang bisa selalu serius.

Aku bukan Tuhan, yang bisa selalu mengerti isi hatimu.

Aku bukan Tuhan, yang bisa kasih apa saja untuk kamu.

Aku bukan Tuhan, yang tahu semua tentangmu

Aku bukan Tuhan, yang tidak mengetahui seperti apa diriku sebenarnya.

Aku bukan Tuhan, yang segala nya serba sempurna

Aku bukan Tuhan, duhai kamu yang membaca

Aku bukan Tuhan

Sekali lagi, Bacalah…

Tolong jangan bandingkan aku dengan Tuhan, karena aku tak sempurna.

Ini aku apa adanya, begini adanya, demikian rupanya, kekurangan sifatnya.

Aku bukan Tuhan, jangan tuntut aku untuk sempurna

Aku bukan Tuhan, jangan minta aku jadi yang terbaik

Aku bukan Tuhan, yang tahu tanggal kematianmu.

12:00 WIB

Jatinangor, 19 Oktober 2015

15:41

Tulisan ini, diketik saat terduduk lama di salah satu bangku biru kampus…

Dia adalah Hanafi, pemuda berusia 20 tahun asal pasir koja, Bandung. Yang katanya orang ganteng kota kembang bandung atau si turis asing dari negara pasir koja.  Lengkapnya Hanafi Hardiansyah, dan si aku baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Jalan hidupnya yang membuat si aku ini terperana. Satu kata untuk dia “keren”. Bukan karena keren penampilannya, apalagi wajahnya. Nanti dia terbang. Bukan. Ada banyak sekali sisi yang tak ditebak dari dirinya, salah satunya mungkin ini.

Dia berjiwa mahasiswa meskipun dia tak ber-status mahasiswa. Jarang sekali si aku menemukan sosok manusia seperti dia ini. Mungkin baru dia. Ya, gapapa dibilang lebay juga. Orang seperti dia harusnya kuliah. Agar mahasiswa-mahasiswa yang tak berjiwa mahasiswa ini bisa banyak belajar darinya. Bahwa kesempatan itu adalah emas. Peluang itu menjebloskan. Suatu ketika ada yang bertanya padanya “kuliah dimana kang?”. Pertanyaan yang sangat lumrah bagi akang-akang yang memang sudah menginjak dunia perkuliahan. Tapi baginya? Dengan santai menjawab “saya dagang”. Udah, itu aja.

Prinsip. Dengan prinsip orang menjadi santai. Santai akan kehidupan ini, karena sudah mengetahui mana yang harus di garis, mana yang harus dilingkari. Mana yang harus di injak, mana yang harus ditekuni. Selama itu baik tak ada kata malu untuk melakukannya, selama itu baik tak putus do’a menyertainya. Selama itu baik tak ubahnya sosok manusia yang percaya akan ketakdiran dirinya akan baik. Baik sekali. Dan ia yakin itu akan menjadi sangat baik. Si aku juga.

Si aku berharap, ibunya dan ayahnya menyadari bahwa mereka memiliki seorang anak yang luar biasa dan seharusnya amat sangat bangga dan menyesal telah berpisah. Kenapa? Karena telah lahir anak yang sholeh yang kelak akan menyelamatkan satu keluarganya ke dalam syurga. Sesuatu yang mengherankan dan mengagetkan. Perhatian si aku mulai menggali sebenarnya siapa yang berada di posisi paling atas di hatinya. Apa prinsipnya? Si aku pikir ia mengetahuinya. Allah dan Rosul serta kedua orangtua yang dicintainya lah dasar dari pada bangunan dirinya. Begitulah Allah maha kuasa memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia mau. Sesederhana itu dan hanya itu.

Si aku mengatakan, kekayaan itu tidaklah penting. Tidur itu tiadalah penting, Apalagi yang baru bangun. Yang terpenting adalah bisa sehat dan menjalankan apa yang dicintai Allah serta Rosulnya. Semoga Allah senantiasa memberikan ruang kesehatan kepada siapa saja yang Dia ingin berikan. Berikanlah kebaikan kepada orang-orang baik sehingga ia nya makin baik, dan bertambah baik. Selalu dan jangan lepaskan kebaikan itu.

Kemudian, jari jempol mengangkat energinya ke atas, sampai yang tadinya terduduk menjadi berdiri dan berlari.

Bersambung…

1:41

Malam, Eh Dini hari ternyata

ku sapa kau yang berada jauh disana, hey…kau mengganggu fikiranku sejak 1:41 tadi dan entah akan berakhir kapan. tanpa bisa mengurainya dalam tulisan ini, entah tanganku bergerak dengan sendirinya.

bahkan bingung ingin melanjutkan dengan kata-kata apa, karena telah lupa bagaimana rasanya rindu. rindu itu sudah terbang bersama pandanganku dengan langit-langit malam. aku berusaha melupakannya, sulit sih tapi kurasa aku bisa.

ah, aku tak ingin galau. banyak yang harus aku kerjakan. bacaanku menumpuk untuk diselesaikan. tulisanku menuntut dibereskan. tugasku menuntut untuk dikerjakan. kamu? ya, kamu tak menuntut apapun namun kau selalu menghiasi pandangan fikirku. terimakasih ya, selama itu positif tak masalah. akan ku simpan. hey! awas saja jika melebihi itu.

Allah, kau sempurna. itu saja sebetulnya yang ingin aku ucapkan. kuasa Mu mampu menghadirkan ketenangan jiwaku saat ini, setelah 1:41.

bagimu, yang membaca ini. bacaan macam apa ini? aku tak mengapa. diawal sudah aku katakan bahwa tanganku bergerak dengan sendirinya. ga suka? gapapa. aku tak marah dan tak juga kecewa. ha.

akan ku tuliskan ini, bahwa karakter, kebiasaan, tindakan, kebiasaan, perbuatan, dan pandangan, itu sinergitas yang tak mungkin loncat kesana kemari. tak mungkin.

apa yang kita makan itulah kita, apa yang kita baca itulah kita, apa yang kita dengar itulah kita, apa yang kita lihat itulah kita, apa yang kita rasa itulah kita. kita tak lepas dari kita itu sendiri. semua sinergitas dan timbal balik dalam hidup itu terjadi. mungkin tanpa kita sadari. menuliskan apa aku ini? karena sulit menyampaikan secara lisan dengan ini lebih mudah. itu saja! sekian.

Kamar L55, Pondok Lestari, Larut Dini.

Halaqah Cinta

danbo_by_sloorth-d4mqqq5

Untukmu calon imamku, ku tulis kisah ini di malam-malamku yang panjang. Bagai goresan getar hati dalam rindu yang tertahan. Untukmu seseorang yang akan menemaniku di masa depan.

Kamu, siapa kamu? Siapa namamu? Dimana kamu berada? Aku menantimu bersama semua pengabdianku yang tertunda. Bersama segenap cinta yang tak akan sempurna bila engkau tak kunjung hadir dihadapanku. Untukmu calon imamku yang aku tidak tahu dimana engkau berada.

Suatu saat bila engkau datang, tolong cintai aku karena Allah. Bimbinglah aku, jadilah imam dalam sholatku. Izinkan bakti dan taatku menyatu bersama senyum di wajah teduhmu. Izinkan cinta dan rinduku terpatri kuat di dalam hati dan fikiranmu.

Untukmu calon imamku yang entah sedang apa, ketahuilah aku ini adalah orang asing untukmu. Nanti, terangkanlah apa-apa yang tidak aku mengerti darimu. Terangkanlah apa-apa yang tidak engkau sukai agar aku dapat mengenalmu secara utuh .

Untukmu calon imamku yang sedang memantaskan dirinya dihadapan Allah, ketahuilah akupun sedang menantimu dalam taat. Menanti untuk menjadi belahan jiwamu, menanti untuk menjadi penyejuk hatimu.

Ya Allah, Aku berdoa untuk seorang laki-laki, yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seorang yang sungguh mencintai Mu lebih dari segala sesuatu. Seorang laki-laki yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang laki-laki yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk Mu.

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai. Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang laki-laki yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang laki-laki yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati dengan kesabaran ketika aku berbuat salah. Seorang yang mencintaiku bukan karena rupa wajahku tetapi karena hatiku. Seorang laki-laki yang dapat menjadi sahabat ketika dekat dan pacar ketika jauh. Seseorang perhatiannya dapat menambah kecintaanku pada Mu.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga Engkau dapat membuat kami bersatu dan sempurna dimata Mu.

Seorang laki-laki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya. Seorang laki-laki yang membutuhkan ridhoku dalam kehidupannya. Seseorang yang membutuhkan bahuku untuk menumpahkan kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Berikanlah padaku hati yang lembut sehingga rupawanku di matanya datang dariMu bukan dari luar diriku. Kuatkan aku sehingga aku selalu mampu menjadi sandara untuknya ketika masalah menimpanya. Bukakan selalu mataku sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja. Anugerahkan l lisan yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari. Rekahkanlah bibir ini dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan betapa kuasanya Engkau. Karena Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.

Stronger

Dunia itu kejam

Itulah kata yang sering kali terucap dari lisan seorang Public Relations, Ogi Wicaksono. beliau mengatakan banyak sekali manipulasi yang ada dalam dunia ini dan salah satunya adalah dimulai dari diri kita sendiri.

Dunia ini tak lagi bersih dan suci, manusialah yang menjadi faktor penyebab ini semua bisa terjadi. kacau, berantakan, tak karuan, suap, korupt, dan masih banyak lagi.


“aku ga ngerti ya kenapa ada orang yang gamau dirinya itu menjadi lebih baik dari sebelumnya? kok masih aja bilang gabisa… masih aja bilang gamau… padahal kan hal tersebut untuk dirinya sendiri, untuk pangkat dirinya, untuk kebaikan dirinya. tak ada yang menyalahkan jika ia salah, karena wajar saja, kesalahan pasti akan ada dan akan selalu ada. tapi ini mah, gamau coba. gimana mau bisa?” -yayah, mahasiswi-

Tuhan, menciptakan manusia salah satunya adalah untuk belajar, apapun. dalam prosesnya Tuhan selalu menempatkan ujian berupa kesalahan, kekesalan, kemurkaan, ketamakan, dll. kita hanya diminta untuk tegar, kuat, sabar dan terus melanjutkannya.

 Banyak dari kita, justru mengabaikan itu, menyerah ditengah perjalanan dan banyak alasan lain sehingga membuat penulis menuliskan ini. Penulis menginginkan, tak satupun pemuda menyerah, coba jika tidak bisa. lakukan jika dirasa takut, lawan jika dirasa akan gagal.

Tubuh kita, Otak kita, Hati kita itu satu jalur dan lajur. Hati kita adalah pemimpinnya. maka jika kita mampu memenej hati kita sebaik mungkin, kemungkiinan besar yang lainnya akan mengikuti.

Tubuh itu bagaikan baterai pada barang elektronik, otak kita bagaikan memory atau hardisk, dan hati kita ibarat software yang ada di komputer kita, semakin banyak virus yang masuk jika tidak dibersihkan maka akan merusak dan menghapus system yang ada pada software.

Jadilah manusia yang selalu membersihkan virus hati, mengecas tubuh, dan menambah file dalam otak setiap harinya setiap jamnya. selalu lakukan itu dan usahakan tidak berhenti.

Sebelum mengoreksi orang lain, maka koreksilah diri sendiri dulu, karena ibarat sebuah laptop yang walaupun satu type, tetap saja isinya berbeda. jangan pernah kau remehkan diri sendiri. jangan pernah kamu menyerah hanya karena hidupmu sulit, hidupmu serasa bodoh.

Yakinlah, ada sisi dimana kamu bisa untuk bangkit, sukses, dan terus sukses.

Dear Allah,

muhasabah

Bismillah…

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis, Menggerakkan tanganku, Menuangkan segala rasaku, Disini. Rindu tangan ini menyentuh keyboard, rindu untuk menitihkan air mata dan menunduk pilu didepan layar laptop, yang sekian lama ku lupakan. Aku sedang tidak mempedulikan apapun di sekitarku. Entah. Kondisi hatiku;membatin.

Sudah terlalu jauh aku dari kenyataan, sastra telah membawaku banyak bermimpi, berkhayal, bersyair, berpuisi, bernyanyi dan bersedih. Karena memakan pahitnya lebah yang telah menghisap maduku sendiri. Begitu gelapnya jalanku, butanya mataku, pening kepala ini. Karena sudah terlalu jauh aku dari Nya.

Betapa ingin aku pergi dari kehidupan ini, cepat menyusul khadijah, aisyah, asiyah, fatimah, zainab, dan semua syahidah Allah. Sayangnya bekalku belum cukup, hutangku masih dimana-mana, baik itu materi ataupun budi. Aku takut neraka namun aku berharap syurga. Ah manusia memang penuh kebimbangan.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah memang memberikan kelemahan kepada manusia yang diantaranya adalah bersifat kikir dan keluh kesah. Terlalu memperhatikan dirinya sendiri sampai lupa akan perhatiannya kepada sekitar itu juga termasuk kikir. Tidak makan demi menghemat yah mungkin itu juga bisa disebut kikir karena Allah telah mengatur kita sampai rezeki untuk makan sekalipun.

Manusia berkeluh kesah. Diberikan ujian ia mengeluh, di berikan nikmat ia resah. Manusia selalu terombang-ambing, pasang-surut, naik-turun iman nya. Mungkin wajar manusia mengeluarkan bahasa “galau” karena begitu dahsyat kebimbangan manusia. Sehingga menghasilkan sesuatu yang bernilai menurut manusia itu sendiri tak tahu di hadapan Allah.

Allah, Kau bagai obat penenang yang menenangkan aku ketika aku sendiri. Melindungiku ketika aku menyebut-nyebutMu, dan kini aku tak rasakan itu. begitukah aku jauh darimu. Ya Allah ampuni hamba.

Mengukir cinta ku tak bisa, mengukir hati pun tak kuasa. Berlari dalam hidup yang tak menentu. Menggapai dunia ku kecewa, menggapai surga aku pun tak kuasa. Akhirnya selalu menangis dan merenung akan dosa lalu.

Ku mengharapkan ketenangan yang datang pada jiwa sampai ku terjaga, ku impikan cinta satu yang datang dalam qalbu sampai ku menunggu sahara di pelupuk senja yang indah bagai surga, fitah rasa cinta. Kepada Mu meminta keindahan dunia dan ketenangan untuk jiwa yang selalu berdo’a.

Allah lah tempat kembali terbaik untuk mu…

True Love

10685409_772756056104327_7848721585334069612_n

Kau berikan aku yang terbaik. Kau sembunyikan sesuatu yang akan membuatku sedih. Kau kabarkan kebahagiaan yang aku tak tahu bahwa sesungguhnya suatu kesedihan mendalam tersimpan dalam hatimu. Kau jadikan aku seorang anak yang hebat, mandiri, dan berprestasi.

Ayah, kau adalah pahlawan ku. Pahlawan ku dalam keadaan apapun. Kau tak sanggup melihat ku menitihkan air mata. Kau tersenyum penuh keikhlasan ketika melihatku bahagia. Rasanya, tak sanggup jika aku harus melihatmu pergi. Betapa khawatirnya diriku jika kau pergi untuk jangka waktu yang lama. Anakmu takut jika kau nanti pergi tak kembali.

Rasanya sakit jika harus mendengar kabar yang tak seharusnya tersampaikan oleh seorang adik. Tidak sepantasnya aku mendapat kabar yang seharusnya aku dapat dari mulut ayahku. Sejuta fikiran menghantui kepala ku. Ribuan bulir air mata berjatuhan mulai menyentuh jilbab dan pipiku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku terdiam. Aku bisu dan selintas fikiranku mulai kosong tanpaNya.

Ibu, jasamu tak pernah bisa aku balas. Aku mengerti. Seorang Ibu tidak pernah meminta anaknya untuk membalas budi Ibunya. Betapa kebahagiaan itu hadir ketika si anak bisa dewasa. Tersenyum dan sukses.

Layaknya sosok Siti Khodijah, Ibu sejati kepada anak-anaknya. Sungguh sulit meng-ibaratkan dirimu wahai ibuku. Karena kaulah insan terpenting dalam hidupku. Tak pernah berkurangnya rasa cintamu padaku. Do’amu selalu sampai padaku. Sayangmu tiada tara dan batas. Aku mencintaimu dengan tulus sebagai anak kepada Ibunya.

Aku tahu, aku jauh dari kata sempurna. Menyayangimu, mencintaimu, menyukaimu,  menghargaimu, menghormati, bersikap sopan dan berbakti padamu. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Anakmu yang tak tahu terimakasih. Anakmu yang belum bisa menuruti semua inginmu. Anakmu yang tak tahu malu. Yang hanya bisa meminta dan meminta.

Aku tahu sifat kalian kepadaku layaknya daun yang jatuh tapi tidak pernah membenci angin. Walaupun angin terus berhembus, menjatuhkan daun, menggugurkannya, menerbangkannya jauh dan meletakan nya di tempat terasing. Daun tetap akan menjadi daun. Yang tak pernah membenci angin.

Bagiku, kau adalah sahabat ketika dirumah dan pacar ketika jauh. Perhatianmu sungguh membuatku menambah kecintaanku padaNya. Dan ketika kau tak lagi seperti pacar ketika kita jauh. Akupun merindukanmu. Sangat merindukanmu.

Inikah Jalanku?

images (2)

 

Biar jatuh ku bangkit semula

Biar lemas ku renangi jiwa

Biar payah ku terus arungi

 

            Bumi yang luas dengan hamparan keindahan yang tiada tara dan manusia dengan seluruh kesempurnaan nya. Kini ku memilih duduk, berfikir, merenung, dan mulai menggerakkan jari-jari yang telah lama tak seperti ini.

            Detik-detik waktu ini kian berlalu, jari-jariku pun tumbuh semakin dewasa saja. Namun sepertinya jiwaku belum dewasa. Orang lain menganggapku dewasa. Yah, Dewasa. It’s what you know. Renungan itu kembali hadir. Begitu banyak sekali kekuranganku yang Engkau tutupi ya Robb. ingin sekali rasanya aku berteriak kepada semua orang bahwa aku ini hanyalah manusia yang “HINA” tanpaMu. Namun suaraku adalah Aurat. Begitu sayangnya Engkau padaku.

            Aibku Engkau tutupi, dosaku Engkau ampuni, hidupku Engkau penuhi, nafasku Engkau beri, makanku Engkau cukupi. Ya Robbi, apalah arti ibadah ku selama ini. Sedang Engkau mengasihiku dari aku lahir ke bumi ini sampai aku bisa seperti ini?.

            Bahkan dengan semua nikmat itu, kadang saja aku masih enggan bersyukur. Aku masih menginginkan ini itu dan lainnya. Keduniawian ya Robb. Padahal Engkau telah janjikan Syurga untukku, jika aku bersyukur.

            Kini, aku dihadiahkan ujian indah olehMu. Hadirnya sosok pemberani yang berniat baik. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya tanpa landasanMu ya Robb. Sedang Engkau adalah pencemburu hebat yang ku tahu. Engkau memasang-masangkan kami sesuai dengan fitrah kami. Naluri ku memlilihMu.

            Aku ingin seperti Robi’atul Adwiyah, yang mengabdikan diri sepenuhnya kepadaMu. Tanpa ku mencintai sosok manusia di dunia. Menghabiskan usia didunia hanya untukMu, sepenuhnya. Tanpa ku memikirkan diriku, sekalipun. Aku ingin hidupku ini hanya untukMu. Aku serahkan seluruh raga dan jiwaku ini untukMu ya Robb.

            Langkah tanganku terhenti di kalimat ini, ragapun menunduk pilu dan bulir-bulir air matapun menetes menyentuh keyboard. Bagaimana mungkin aku bisa? Apa yang harus aku lakukan. mencintaiMu pun rasanya sangat jauh dari kata sempurna. Bagaimana mungkin aku akan menghadirkan sosok itu dan mulai mencintainya. Bagaimana bisa aku mencintainya dan mencintaiMu juga. Ah, aku ingin mencintaiMu saja ya Rabb, SATU hanya ENGKAU.

            Oh Robb, apakah ini yang disebut cinta sejati?

            Cinta yang hanya aku berikan kepadaMu saja. Biarlah Engkau mencintai Kekasih Engkau Muhammad Saw, Musa As dan hamba-hamba yang jua mencintaiMu, Tuhannya. Aku tak peduli seberapa banyak makhluk yang mencintaiMu dengan tulus. Aku hanya ingin menyerahkan diriku untukMu dan aku yakin Engkau tahu akan hal ini. Betapa cintaNya aku padaMu. Aku hanya berharap, aku bisa bertemu Engkau, hanya itu.