disini kita pernah bertemu

mencari warna seindah pelangi

ketika kau menghulurkan tangan mu

membawaku ke daerah yang baru

dan kini hidupku ceria

kenangan bersamamu

takan ku lupa

walau badai datang melanda

walau tercerai jasad dan nyawa

mengapa kita di temukan

dan akhirnya kita di pisahkan

mungkinkah menguji kesetiaan

kejujuran dan kemanisan iman

tuhan berikan daku kekuatan

(Brother-Untukmu Teman)

Aku pernah disini, menjuntai hari-hari penuh makna bersama para wanita yang dicemburui bidadari syurga. Wanita sholehah yang senantiasa menjaga diri, hati dan fikirannya. Kesabaran yang tiada tara dan tiada habis selalu menghiasi diri kami. Bersyukur atas apa yang telah Allah limpahkan kepada kami adalah kebiasaan kami. Walaupun dalam hidup pasti ada bumbu-bumbu masalah yang bertabur menebarkan bau basah kehidupan.

            Pelangi yang selalu hadir menghiasi episode kami, Burung indah yang beterbangan setiap sore selalu menemani kami ketika sedang menghafal Al-qur’an, Bintang dengan berjuta cahayanya pun selalu setia menemani belajar kami pada malam hari. Mereka tak pernah lelah mendampingi kami, karena kami sama-sama melakukan semua itu karena Allah Subhanahuwata’ala.

            Detik masa pun berlalu dan tiada pernah berhenti sampai nanti Allah mempertemukan kita di Syurga kelak. Maka sungguh berat rasanya dalam jiwa ini untuk melangkah meinggalkan semua sahabatku. Kenangan-kenangan itu tidak pernah bisa terlupa dan akan selalu aku ingat selamanya.

“Usqut akhwat !” itu yang selalu terucap dikala kami sedang asyik dengan canda tawa kami. Indahnya rasa saling mengingatkan itu. Lalu seketika itu kami terdiam karena mengerti ada yang terganggu akan kebisingan kami.

“Man fiddakhil?” kata ini sering terucap di depan pintu yang selalu kami kunjungi dua kali sehari. Untuk sekedar mengetahui siapa yang ada didalam dan berusaha serta berharap bisa mandi dua kali sehari walau antri. “Man ba’daki?” itulah usaha kecil kami untuk mengantri, menanyakan siapakah setelah kamu (yang berada didalam kamar mandi). Jika tidak ada maka manjawab “mafih” kemudian dengan senang berucap “ana na’am”.

“Man ta’malul wajib al’an?” pertanyaan yang sering terlontar ketika melihat keadaan rumah satu atap kami berantkan. Dan biasanya kami melaksanakan piket ini dua kali pelaksanaan dalam sehari. Kami pun selalu ceria melakukan pekerjaan ini karena kami selalu melakukan bersama-sama “Hayya na’mal wajib akhwat ! ”.

            Karena kami perhatian dengan sahabat-sahabat kami, ketika melihat masih ada beberapa piring tergeletak maka kami pun peduli bertanya “Man lam ta’kul akhwat ?” maka yang belum mendapatkan hak untuk makan pun menjawab “Ana lamma ukhti” lalu kami memberikan piring itu kepadanya “tafaddholi ya ukhti” dan kami makan bersama-sama “Hayya na’kul jama’atan akhwat ! ”.

            Betapa harmonisnya kehidupan di Ma’had, penuh dengan kebersamaan kekuatan ukhuwah yang terjalin karena hidupnya kita dalam satu bangunan, satu ikatan, satu jalan dan satu cinta. Cinta karena Allah lah yang membuat kita kuat, yang membuat kita tegar, yang membuat kita mampu bangkit dari kegagalan dan bangkit ketika jatuh.

            Kami belajar bersama, makan bersama, shaum bersama, menangis dan tertawa bersama, berbagi kisah dan derita bersama-sama, berbagi ujian dan masalah bersama serta berbagi keceriaan bersama. Kami hidup bersama jiwa kami bersatu takan terpisah selamanya.

            Sahabat, Aku rindu. Rindu kebersamaan itu, rindu tawa dan tangis kalian, rindu amarah kalian, rindu nasihat kalian, rindu bersama kalian, rindu berkisah dengan kalian, rindu percakapan bahasa arab keseharian kita, rindu semuanya.

            Namun, aku malu sahabat. Malu akan dekatnya sahabat dengan Nya. Rajin nya sahabat untukNya, tawakkal sahabat kepadaNya. Keistiqomahan sahabat. Malu akan semua itu. Bukankah malu itu sebagian dari iman sahabat?

            Doakan diri ini sahabat ! agar tetap dijalanNya, tetap istiqomah, kuat, tegar, sabar dan semua perbuatan yang dulu sama-sama kita bina. Kini aku sendiri, aku mandiri yang harus bisa belajar membangun itu semua tanpa sahabat. Jangan pernah putus mendo’akan aku sahabat, dan semoga Allah berkenan mempertemukan kita di rumahNya kelak.

Aamiin ya Robbal alamiin

Gambar

5 pemikiran pada “Aku pernah Disini…

  1. i like it,,,

    artikel yg sangat menyentuh,, artikel yg memotivasi dan penuh inspirasi,,,

    pertahan kan dan tingkat kan,,?

  2. subhanalloh..
    artikelnya membuat ku menangis.hal ini sama percis dengan perasaan ku.aku rindu kalian semua,termasuk mba yayah.. :’|
    syukron jiddan na’am,udh dikirimin…!! :’)🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s