Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana kita benar-benar beriman ialah dengan mengukur sejauh mana perasaan dosa terhadap hati kita ?

Apakah hati kita akan terasa kesal dan menyesal dengan dosa yang kita telah lakukan ?

Atau kita merasa biasa-biasa saja terhadap dosa-dosa tersebut ?

Jika terasa menyesal, itu merupakan tanda Iman masih ada di dalam hati kita.

Sebaliknya, jika dosa tidak memberi perasaan apapun didalam hati kita, kemudian kita tetap senang. itu satu pertanda buruk. Iman kita amat lemah dan hati kita sedang sakit.

Apa tanda penyesalan ?

Penyesalan bukan menyesal jika kita hanya merasa sedih tanpa berbuat apa-apa. Tetapi menyesal yang sesungguhnya apabila kita mulai bertindak selaras dengan apa yang kita kesalkan.

Kita menyesal dengan dosa ? Seharusnya,  kita tempuhi jalan-jalan taubat dengan memberhentikannya, niat tidak akan mengulanginya lagi dan berbuat baik sebagai ‘ganti’ kepada kejahatan yang kita lakukan itu.

Mari kita tanyakan pada hati kita, Bagaimana dengan dosa yang telah kita lakukan?

Pernahkah kau bertaubat ? sedang Allah Maha Pengampun

tak peduli seberapa ratus kali kau memohonkan ampunan pada Allah,

tak peduli seberapa banyak kau melakukan dosa padaNya dan  menyakitiNya,

Allah akan tetap memaafkanmu.

Sadarkah itu?

Gambar

Menyesalah dahulu, kerana menyesal kemudian hari tidak akan berguna. Jika kita akan menangis, maka menangislah pada saat ini.  karena menangis di Akhirat akan sudah terlambat dan tidak berguna.

Takutlah dengan akibat daripada dosa yang kita lakukan. Jangan anggap ringan kemurkaan Allah. Jika istri, suami, pimpinan dan teman-teman marah pun sudah menyebabkan hidup kita resah dan sedih, apalagi murka Allah, Tuhan yang mencipta kita.

Ya, kita sering terlupa akan akibat dosa yang datang tiba-tiba.

Lupakah kita dengan kaum Aad yang ditimpa bencana tepat ketika mereka berarak ria menuju ‘syurga’ ciptaan raja mereka? Apakah kita lupa bagaimana sikap Rasulullah S.A.W ketika baginda dan para sahabat melalui tempat kaum Aad dan Tsamud menerima bala? Baginda terlalu terganggu oleh ‘nostalgia dosa’ – hingga sejarah mencatatkan bahawa Rasulullah S.A.W menyuruh para sahabat menundukkan muka dan jangan memandang ke langit (tanda merendahkan diri) ketika melalui tempat tersebut.

Rasulullah S.A.W pernah berdoa memohon agar Allah tidak menurunkan bala bencana ketika gerhana. Baginda akan sembayang dengan penuh tawaddu dan baginda berdoa:

“Tuhanku! Tidakkah engkau telah berjanji untuk tidak mengazab mereka (umat Islam), dan aku berada bersama mereka. Tidakkah engkau telah berjanji untuk tidak mengazab mereka (umat Islam), sedangkan mereka adalah orang yang bertaubat. [Sulaiman bin al-Ash’ath, Sunan Abi Daud]

Itulah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah S.A.W, seorang insan yang bebas daripada dosa dan dijamin masuk Syurga. Padahal baginda insan yang mulia, para penduduk kota Madinah ialah para sahabat Rasulullah yang terkenal sebagai generasi al-Quran dan kota Madinah itu sendiri adalah kota suci yang penuh rahmat dan keberkatan.

dikutip dari http://www.iluvislam.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s