Bismillah…

kemarin, aku baru merasakan lagi sahur bersama keluarga di rumah. rasanya sangat bahagia dan inginnya seperti ini terus (berada dirumah). menu sahur begitu lengkap; ada ayam goreng tepung, sayur sop topping baso, tempe bacem, dan sambal goreng kentang. ditambah minum susu, air. kemudian makan kurma dan minum habbats. menurutku sahur seperti ini adalah sangat lengkap dan langka. yah, namanya juga anak nomaden alias makos (mahasiswi kosan). masak kalau lagi minat, beli kalau lagi lembar-lembar biru berada di dompet dan kadang hanya menelan beberapa suap dari tetangga kamar. cukup miris.

aku akan seperti ini terus hingga H-3 lebaran. salah satu penyebabnya adalah kekuranganku, kemalasanku, kebodohanku. adalagi karena amanahku dan organisasiku. hidup ini memang sempurna, ada salah ada benar. jika ada kesalahan maka perbaiki. hal itu juga yang membuat orangtuaku sedikit bergumam. terlihat dari raut wajah mereka yang berbeda kitika menerima cium tangan dari ku. aku khawatir, dan mulai gelisah dalam hati. hanya bisa berdo’a semester akan datang aku tak seperti ini lagi.

apa hal yang membuat dirimu begitu menyia-nyiakan mereka?

Can you tell me why should a Mother and Father cry?

kekecewaan itu membuatku kaku dihadapan mereka, anak macam apa aku ini?. dari kecil hingga aku sebesar ini aku tak tahu artinya meneruskan belajar dalam sebuah institut atau bangunan. aku hanya memahami bahwa belajar itu dimana saja kapan saja dan dalam keadaan apapun.

ketika dulu aku lulus SD, nilai UN ku mungkin cukup memuaskan dan bisa melanjutkan ke SMP negeri yang lumayan bagus juga. namun tak terlintas  di benak aku untuk melanjutkan sekolah. justru aku malah bertanya-tanya

memangnya harus ya melanjutkan Belajar ke SMP?

pertanyaan itu membuat banyak orang tertawa, dan aku tak mengerti apa maksudnya. ya, mungkin aku saja yang bodoh pada saat itu. tak memahami makna sekolah yang sebenarnya. pada saat lulus SMP pun aku tak pernah berfikir untuk melanjutkan belajar ke SMA.pelajar macam apa aku ini. lulus SMA pun aku tak berfikir untuk kuliah ataupun kerja.benar-benar keterlaluan.

mungkin kamu. ya kamu yang membaca tulisan ini menganggap aku bodoh atau apalah. tapi prinsip ku tetap satu yang disebutkan diatas, belajar bisa dimana saja dan kapan saja. bahkan nafasnya kita itu pembelajaran juga. itu hal kecil yang menyangkut besar. pernahkah terbayang dalam benakmu bagaimana jika kita duduk mendengarkan atau mencatat apa yang diperintah guru kita tanpa bernafas? kau bisa bayangkan sendiri itu.

sampai sekarang fikirku tak realistis. tapi mencoba ikhlas dengan semua percobaan yang orangtua lakukan kepada diriku karena aku adalah anak pertamanya. mungkin dulu orangtuaku menginginkan aku ini adalah seorang laki-laki. ya jadinya aku agak ke-cowo-an. dan sedikit sensitif jika melihat laki-laki yang perawakannya baik namun lembek.

bayangkan saja, aku pernah berkendara motor bandung-jakarta, garut-jatinangor, lembang-jatinangor. kemudian mengganti oli sendiri, mengecat, dan semua hal lain yang mungkin anak perempuan tak lakukan itu.

sering aku menyepelakan hal-hal yang temanku menganggapnya penting. apakah cuek dengan menyepelekan itu sama? ya, entahlah. mungkin hanya beda tipis. jiwaku jiwa perempuan, punya sedikit fikiran menjadi kefikiran yang berlarut-larut. seperti tulisan ini, ngalur-ngidul kemana tahu.

ya, begitulah aku dengan segenggam keanehanku

betapa nikmatnya merasakan tarawih berjama’ah dan merasakan perbedaan tarawih antara di masjid raya unpad dengan masjid at-takwa / as-shalihin

bersambung…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s