”Kak Faiq, jelaskan padaku…apa arti semua ini? Kakak sedang bersandiwara bukan?” Lanjut Niyala dengan terisak dan air mata berkucuran.

”Adikku Niyala, dengarkan baik-baik ya! Kakak bersumpah demi Allah, kakak sungguh-sungguh hendak menikahimu secepatnya. Kakak tidak mungkin bisa hidup tanpa dirimu disamping kakak. Kakak sangat mencintaimu. Dan kakak tidak pernah dan tidak akan pernah mencintai wanita selain Umi dan dirimu. Kakak ingin kau menjadi istri kakak, menjadi pendamping kakak mengarungi hidup ini, berlayar menuju ridha Ilahi. Dan kakak ingin kaulah yang melahirkan, mendidik dan membesarkan anak-anak kakak. Kakak berjanji akan membawamu ke istana kebahagiaan semampu kakak. Ini bukan sandiwara lagi. Ini serius. Apakah kau ragu untuk melangkah ke pernikahan, mengarungi hidup dengan kakak, Adikku?” Kali ini Faiq menjawab dengan segenap perasaannya.

Kedua matanya basah.

Mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari lisan Faiq dengan penuh kesungguhan itu, Niyala merasa ada hawa dingin yang turun dari langit. Hawa dingin itu merasuk di ubun-ubunnya lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Hatinya merasakan kesejukan yang luar biasa. Tetesan air matanya semakin deras.

”Adik ikut kakak. Adik sepenuhnya percaya pada kakak.” Pelan Niyala sambil menunduk. Perasaan haru, bahagia, cinta, optimis dan surprise membaur jadi satu dan berpendar-pendar dalam dadanya. Ia belum pernah merasakan perasaan seindah itu sebelumnya.

”Semuanya sudah terang. Jadi dalam rencanamu, kapan akadnya akan dilangsungkan, Anakku? Tanya Umi sambil memandang wajah Faiq lekat-lekat.

”Ananda berharap tidak ada yang kaget. Akad nikah akan kami laksanakan malam ini juga!”

Tak ayal Niyala, Umi, Pak Rusli dan Herman kaget mendengarnya.

”Ini bukan lelucon Anakku!” Seru Umi.

”Ananda serius, Umi. Ananda tidak main-main. Untuk sebuah acara sakral yang cuma sekali dilaksanakan dalam hidup, apa ananda akan main-main? Ananda sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ananda sudah mengontak KUA dan membereskan administrasinya. Ananda juga sudah mengundang tokoh-tokoh masyarakat, remaja masjid dan masyarakat sekitar sini. Ananda sudah mengundang Pak Kiai Imam Jazuli. Ananda juga sudah mempersiapkan katering dan handycamnya. Semua sudah ananda persiapkan di Aula Islamic Centre, Umi. Setengah jam lagi acaranya akan dimulai. Orang-orang sudah menunggu disana. Dua puluh menit lagi akan ada dua mobil datang kemari. Sekarang sebaiknya Niyala, Umi, Pak Rusli, dan Mas Herman bersiap-siap. Adik Niyala, kau cucilah mukamu. Berdandanlah yang anggun dan jangan berlebihan, namun jangan juga sampai ada guratan kesedihan di wajahmu. Kakak ingin kau bahagia. Gaun pengantin khas Turki yang kakak berikan tadi pagi pakailah. Sementara kakak juga akan bersiap-siap. Kalau begitu, kita tutup dulu musyawarah ini dengan doa kafaratul majlis. Lalu kita semua bersiap-siap.”

Setelah ditutup dengan doa. Empat orang itu sibuk mempersiapkan diri untuk sebuah acara sakral yang tidak terduga-duga.

***

Niyala membasuh wajahnya dengan lotion pembersih wajah. Lalu mengambil air wudhu. Di kamarnya ia menyempatkan untuk shalat dua rakaat meminta ketenangan dan kebahagiaan. Setelah itu ia berdandan seperti yang diminta kakak angkat yang sangat ia kagumi dan ia cintai, yang kini tiba-tiba menjadi calon suaminya. Ia memakai gaun pengantin khas Turki. Kepalanya ditutupi jilbab sutera Turki. Ia berdandan dengan cepat namun hasilnya tetap luar biasa. Tanpa berdandan pun Niyala sudah cantik mempesona. Di luar terdengar suara derum mobil.

Faiq keluar dari kamarnya dengan pakaian biru telur yang menawan. Peci hitam bersulam emas membuat dia semakin tampan. Lalu Niyala keluar dati kamarnya. Keduanya berpandangan sesat lalu saling menunduk. Hati keduanya berbunga-bunga. Baru kali ini mereka berpandangan namun disertai perasaan sangat indah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Tak lama kemudian Umi, Pak Rusli dan Herman sudah siap. Merekapun meluncur menuju Islamic Centre. Di sana semuanya telah siap. Lampu hias menyala gemerlapan. Para tetangga, para pemuda dan tokkoh-tokoh masyarakat sudah memenuhi ruangan.

Malam itu, akad nikah antara Niyala Binti Rusli Hasibuan dan Muhammad Faiq Bin Saiful Anam berlangsung dengan penuh khidmat, dan dalam acara yang sakral itu Faiq kembali memberikan kejutan yang membuat Niyala dan ayahnya juga seluruh yang hadir terkesima. Faiq memberikan mahar sebuah mushaf cantik yang ia beli di Cairo, uang tunai senilai 85 juta rupiah dan hafalan surat Ar-Rahman.

Saat Faiq membaca surat Ar-Rahman dengan nada penuh penghayatan, keindahan suaranya mampu membuat semua yang hadir meitikkan air mata. Setiap kali Faiq melantunkan ayat ”Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan (artinya :”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?”). Dengan diiringi isak tangisnya, semua yang hadir ikut terisak menangis. Dan diantara sekian banyak orang menangis, yang paling dalam tangisannya sampai kerelung jiwa adalah Niyala. Pintu hatinya terasa terbuka bagaikan melihat keagungan Tuhannya. Saat itulah ia merasakan bahwa Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Ia merasakan betapa agungnya nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya.

Setelah khutbah nikah dan do’a, acara dilanjutkan dengan pesta walimah yang cukup meriah. Grup rebana dan shalawat remaja mesjid tampil memukau. Seorang anak TPA berjilbab merah jambu dan berpakaian merah jambu membacakan sebuah puisi berjudul ’Bidadariku’. Suaranya yang jernih dan merdu mampu menyihir seluruh manusia yang ada dalam aula itu. Pesan puisi itu tersampaikan dengan dahsyat :

”Mas kawin untuk bidadariku
Adalah sekuntum bunga melati
Yang aku petik dari sujud sembahyangku
Setiap hari
Buah cintaku dengan bidadariku
Adalah lahirnya sejuta generasi teladan
Yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
Bagi manusia dan kemanusiaan
Pada setiap tempat, pada setiap zaman
Mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
Dalam abad-abad yang susah,
Abad-abad yang tidak mengenal Tuhan
Abad-abad hilang naluri kemanusiaan
Abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
Dan mereka tetap kekar dan setia membela kebenaran
Dan keadilan
Estafet perjuangan kami berelanjutan
Sambung-menyambung pada setiap generasi
Tak berpenghabisan dan terus bergerak
Mengaliri ladang-ladang peradaban
Seperti cintaku pada bidadariku
Yang terus tumbuh semakin subur
Dari hari ke hari
Laksana kalimat suci
Di hati para salehin
Di hati para Nabi”

Niyala sangat tersebtuh mendengar puisi itu. Ia berkata dalam hati, ’Oh puisi yang indah! Siapakah dia gerangan yang mencintai istrinya dengan begitu indah dan sucinya ? Siapakah dia yang cintanya pada istrinya yang tak berpenghabisan, yang terus tumbuh semakin subur, dari hari ke hari, laksana kalimat-kalimat suci, di hati para salehin, di hati para nabi ? Siapakah dia yang menulis puisi itu ? Kenapa anak itu tidak lebih dahulu memperkenalkan siapakah pembuatnya?”

’Tiga detik kemudian pertanyaan Niyala terjawab. Usai membaca puisi gadis berjilbab merah jambu itu berkata,
bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin sekalian yang dirahmati Allah. Puisi ini ditulis dengan segenap tetesan jiwa oleh kakak Muhammad Faiq saat masih kuliah di Mesir untuk seorang bidadari impiannya. Yan saat itu dia belum tahu siapa bidadrinya? Dan ternyata bidadarinya yang sangat dicintainya adalah Mbak Niyala yang cantik jelita!”

Tak ayal, tepuk tangan langsung bergemuruh membahana. Beberapa ibu tampakk mengusap ujung matanya dengan sapu tangan. Hati Niyala berdesir kencang. Ia merasakan kesejukan luar biasa. Tiada henti-hentinya mendengdangkan hamdalah. Entah dari mana datangnya tiba-tiba ia teringat potongan sajak ”mendalam” Armin Pane :

Kasih lari mendatang,
Bersua pantai tujuan sayang.
Memecah menghebat gembira,
Melama, damai, kasih mendalam.

* * *

Acara akad nikah yang indah itu selesai tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit. Setelah semua hadirin memberi ucapan selamat, dua pengantin dan keluarganya kembali ke rumah. Mereka tidak langsung istirahat. Tapi berbincang-bincang di ruang tamu dengan wajah berhias bahagia. Niyala masih mengenakan gaun pengantinnya. Dan Faiq belum mengganti pakaiannya.

”Faiq anakku, Umi sangat bangga padamu, Nak. Kalau boleh ibu tanya dari mana kau dapatkan biaya sebanayak itu?”

Faiq yang duduk di sofa panjang di samping Niyala mengambil nafas panjang. Lalu menjawab,

”Anandalah yang semestinya bangga memiliki seorang ibu seperti Umi. Umilah yang berkorban dan pontang-panting mencarikan biaya agar ananda bisa kuliah ke Mesir. Kalau bukan karena umi, Faiq tidak akan menjadi seperti sekarang. Faiq juga tidak akan punya biaya sebanyak itu. Itu selalu mengajarkan agar ulet, sabar dan tidak menyerah. Dan itulah yang Faiq kerjakan. Umi juga sering mewanti-wanti agar Faiq hidup bersahaja dan hemat, itu j uga yang Faiq kerjakan. Dulu Faiq pernah kirim uang beberapa ratus dolar pada Umi tapi Umi menginginkan agar Faiq menyimpannya untuk hari depan Faiq. Dan semua nasihat Umi Faiq indahkan. Alhamdulillah berkat do’a restu Umi, Ananda dapat beasiswa S2 di London. Beasiswa itu hanaya cukup buat memenuhi kebutuhan ananda. Namun ananda bisa bekerja part time di sebuah toko. Gajinya ananda tabung. Setelah itu ananda mendapat tawaran untuk mengajar bahasa Arab di Islamic Centre. Ananda pun tinggal di sana jadi uang sewa apartemen bisa ananda tabung. Alhamdulillah dengan itu semua ananda bisa membiayai pernikahan ini. Dan saat ini ananda massih punya sisa tabungan sebesaar 15 ribu pounsterling. Insya Allah cukup untuk membiayai Dik Niyala untuk mengambil Specialis.”

Bagaimana kau melakukan ini? Apakah telah benar-benar kau persiapkan jauh-jauh hari? Tanya Umi lagi.

”Tidak Umi semuanya faiq siapakan tadi pagi sepulang dari Pulo Gadung. Umi apa lupa, dulu kan Faiq Ketua Remaja Masjid dan Humas Karang Taruna. Jadi, semuanya mudah saja. Terus, kepala KUA nya itu kan teman satu bangku Faiq waktu SD. Yang jelas, semuanya alhamdulillah berjalan dengan baik. Namun, Faiq minta maaf pada Umi, Pak Rusli dan Mas Herman. Dalam musyawarah tadi Faiq telah berbohong. Faiq minta maaf.”

”Apa itu Anakku kalau boleh Umi tahu?”

”Faiq mengatakan telah menjalin cinta dengan Dik Niyala sejak SMP itu sebenarnya Faiq berbohong. Maafkan Faiq. Yang benar, sejak dulu Faiq menganggap Niyala seperti adik sendiri. Dan sebetulnya Faiq mulai merasa mencintai Dik Niya bukan sebagai adik adalah sejak tadi pagi. Sejak Umi mengungkapkan rasa tidak bisa berpisah dengan Dik Niya. Sejak Umi merasa tidak ada perempuan yang bisa memahami dan mencintai Umi melebihi Dik Niya. Sejak itulah Faiq meraba hati Faiq, ternyata Faiq juga berat berpisah dengan Dik Niya.

Dan setelah Dik Niya minta pada Faiq untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, maka Faiq langsung mempersiapkan segalanya.”

Umi, Pak Rusli dan Herman manggut-manggut mendengar pengakuan Faiq. Mata mereka semua berkaca-kaca.

”Kalau kau Niya sejak kapan cintamu pada kakak angkatmu berubah menjadi cinta seorang gadis pada pemuda pujaannya?” celetuk Herman.

”Kalau dia kayaknya saat pertama kali lihat aku dulu, sejak masih ingusan,hehehe…” Serobot Faiq sambil tertawa renyah. Semua ikut tertawa kecuali Niyala.

”Ih, kakak nakal! Main tuduh sembarangan!” Sewot Niyala.

”Lalu sejak kapan?”

”Sejak musyawarah tadi. Sejak kakak meyakinkan pada Niya, bahwa kakak tidak sedang bersandiwara, tapi kakak bersungguh-sungguh. Sejak itulah rasa kagumku pada kakak berubah menjadi rasa cinta.”

Umi menitikkan air mata mengetahui kisah cinta dua anak yang disayanginya itu. Ia hanya bisa mengucapkan Subhanallah dalam hati.

”Emm…Nak Faiq, maharnya apa tidak terlalu besar?” Sahut Pak Rusli dengan mata basah dan tangan bergetar memegang tas kecil berisi uang tunai 85 juta rupiah.

”Masya Allah. Mahar itu tidak ada nilainya untuk seorang gadis shalehah seperti Niyala. Dunia seisi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seorang istri shalehah. Bagi Faiq, Dik Niyala tidak bisa dinilai dengan materi.”

Niyala menunduk dengan air mata kembali menetes mendengar perkataan suaminya. Ia merasa dirinya sangat dihargai dan dimuliakan. Hatinya tiada henti memuji keagungan Allah. Ia berjanji akan benar-benar menjadi istri yang shalehah untuknya dan akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.

”Apakah masih ada yang perlu dibicarakan? Saya capek sekali. Saya perlu istirahat.” Ucap Faiq.

”Memang sudah malam. Saatnya istirahat. Apalagi besok pagi kita ada acara menghadiri wisuda Niyala.”

Umi bangkit dari duduknya diikuti pak Rusli dan Herman. Faiq berbisik manja di telinga Niyala, ”Faiq malam ini tidur dimana Bu Dokter? Kamar Faiq ditempati ayah sama kakakmu. Masak Faiq harus tidur di ruang tamu? Bolehkah Faiq tidur di kamar Bu Dokter?”
Niyala tidak menjawab. Ia meraih kepala Faiq dan hendak menciumnya. Faiq meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibirnya. ”Sst jangan disini”. Dengan gerakan cepat Faiq membopong Niyala ke kamar. Umi, Pak Rusli dan Herman menyaksikan itu dengan tersenyum geli.

Sampai di kamar, Faiq meletakkan Niyala dan mendudukkannya perlahan di sisi ranjang. Faiq mengamati wajah istrinya itu lekat-lekat. Maha suci Allah yang telah mengukir wajah seindah ini. Bisiknya dalam hati.

”Kakak capek?” Lirih Niyala

”He eh.”

”Mau dipijit?”

”He eh.”

”Kak, boleh Adik minta sesuatu?”

”Boleh.”

”Adik tahu kakak capek. Tapi adik minta, malam ini juga wisudalah adik menjadi seorang perempuan yang paling berbahagia di dunia, sebelum besok adik di wisuda menjadi sarjana Kedokteran.”

”Maksud Adik?”

Niyala mengerdipkan mata.

Faiq tersenyum dan berkata, ”Baiklah, kakak mengerti maksudmu. Tapi tolong kakak dipijitin dulu donk, biar segar. Kakak capek banget. Setelah segar, kita shalat bareng dua rakaat. Bermunajat kepada Allah yang telah memberikan nikmat maha agung kepada kita berdua. Barulah kakak akan mewisudamu dan membawamu ke taman surga.”

”Tapi nanti saat shalat jangan baca surat yang panjang ya kak? Membaca surat yang pendek saja.”

”Lho justru nanti rakaat pertama kakak mau membaca Al-Baqarah sampai selesai. Rakaat kedua mau membaca Ali-Imran.”

“Jangan kak!” Rengek Niyala manja.

“Kenapa?”

“Ah kakak, nanti keburu pagi.”

Faiq tersenyum.

Niyala menatapnya dengan penuh cinta.

Di luar kamar purnama memancar terang. Sinarnya yang keperakan menyepuh genting dan pepohonan. Angin mengalir sepoi-sepoi.

Langit cerah. Hawa sejuk perlahan mengirim embun pada rerumputan. Bintang-bintang bertaburan. Sepasang kunang-kunang menari-nari di angkasa. Di iringi tasbih alam, keduanya tampak begitu indah memadu cinta.

TAMAT

 

Karya : Habiburahman El-Shirazi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s