(sambil mendengarkan backsound nightmare side…)

            Setelah traveling itu aku mendapat ilham untuk meneruskann salah satu hobiku yaitu menulis. Dan sepertinya ini aliran baru tulisanku. Horor, ya. Sangat menarik.

            Cerita ini, diambil dari kisah nyata. Perjalananku selama di garut. Tepatnya, kecamatan banyuresmi menuju talaga bodas yang katanya berjarak kurang lebih 15 km. Ternyata itu semua berasa bohong banget. Perjalanan yang aku lewati bersama rekanku nenden. Memakan waktu sekitar 3 jam. Percaya?. Karena aku yang nyetir, Aku terus memperhatikan spidometer yang belakangan ini baru hidup lagi. Dan aku berkata-kata dalam hati “sepertinya ini jalan sudah lebih dari 15 km deh, udah jauh banget”.

            Keadaan cuaca dalam perjalanan menuju talaga bodas pun semakin parah. Entah berapa celcius lebih dingin dari cuaca daratan garut yang katanya saja sudah dingin. Kami berbincang selama perjalanan itu. Dan kami rasa kami sudah kehabisan hal perbincangan karena sudah saking lamanya kami dalam perjalanan tersebut. Sambil sesekali kami memperhatikan pemandangan.

Jalan menuju talaga bodas begitu menanjak. Tidak ada jalan datar untuk menuju kesana. Jadi kalau kesana pake motor, jangan pernah berhenti nge-gas dan jangan lupa dengan rem yang pakem. Belum lagi dengan tipe jalan yang ber-variasi. Beberapa km pertama jalan nampak sangat mulus. Lanjut beberapa km berikutnya sudah nampak beberapa lubang-lubang yang sepertinya bekas tapak truk ataupun mobil besar. Beberapa km berikutnya lagi tak ada aspal, tak ada lubang. Yang ada hanya batu-batuan besar. Yang jikalau kami tidak berhati-hati sekali. Ban motor kami akan robek dan terbeset-beset. Bayangkan? that’s memacu adrenalin banget bro !

            Semakin menanjak keatas semakin jarak pandangku untuk terus melaju juga terbatas. karena Kabut yang tebal dan sangat lebat. bahkan sampai membuahkan setitik-dua titik air yang jatuh.

            Aku-pun memutuskan untuk mengenakan jas hujan, karena layaknya seperti hujan es. Dan angin yang sangat dingin menghembus menepuk punggungku. Sangat dingin. Tangan terlihat biru, kaku dan basah. Aku tidak tahu berapa derajatkah cuaca dalam kondisi seperti  ini. Tapi yang pasti ini lebih diatas 15 derajat.

            Kami berusaha menutupi rasa dingin dengan berbicara, dan melihat-lihat pemandangan yang tidak biasa kami lihat. Ada jurang, ada rumah terselimuti kabut tak berpenguni, ada anjing kemudian menghilang, ada kebun-kebun rindang yang terkena badai kabut. Semua itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Dan membuat kami didalam hati menjerit “kita kan mau wisata, kok jadi ketakutan begini ya”.

            Kami hampir putus asa, karena jalan yang kami tempuh pun tak sampai-sampai. Motor sudah haus. Kami pun haus minuman hangat. Namun dengan begitu tetap saja aku terus menge-gas dengan stanbay 30-40 km/jam.

Sekelibat pandangan, aku menemukan kubuk-kubuk yang kosong. ada juga kubuk toko yang buka dan aku bisa lihat sachet-sachet minuman yang sepertinya terasa nikmat jika diseduh oleh air panas. Namun, timbul pertanyaan besar “penjual nya mana ya?” seketika kabut menutupi kubuk dengan tebalnya. Dan angin dingin nan beku mengibasi daku. Aku pun berpaling keheranan.

            Aku berhenti, karena ada palang hijau menandakan petunjuk. Dan kami akan sampai. Kami berhenti di pertigaan lalu mengambil arah lurus untuk sampai talaga bodas. Kami pun semangat karena sebentar lagi kami akan sampai. Senyum lebar dalam hati yang berbisik “semoga tak terjadi apa-apa ketika sampai disana”.

            Tak disangka ternyata perjalanan masih sangat panjang. Dan sepertinya kami mulai memasuki hutan. Hutan? Ya, mungkin. Karena kami tak melihat apapun dan seorang pun disini kecuali Pepohonan besar lebat tinggi dan kami. Urat nadi mulai kencang. Mata mulai membelalak. Dan jantung mulai berdebar keras dan cepat. Menandakan ada sesuatu yang tidak lazim.

            Masih dalam perjalanan, kami menemukan jalan yang pelok. Tertampak bekas tapak truk. Nenden pun turun dan mengecek apakah bisa dilewati atau tidak. Dan aku berusaha melewati lintasan nan lembek itu. Dan akhirnya berhasil.

            Aku kira setelah dari jalan pelok itu akan segera sampai. Namun, jalan yang kami lewati masih jauh lagi ternyata. Aku terus menarik gas dan terus menanjak penuh harapan bayangan akan talaga bodas yang indah.

            Aku dan nenden semakin merasa keheranan dan aneh. Mengapa tak kunjung sampai perjalanan kita ini. Dan yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan kabut tebal yang menghalangi pandangku.

            Kemudian, kami sampai pada titik jenuh. Kami lelah, terlalu jauh perjalanan kami ini. Kami merasa melewati satu gunung besar. Berkelok-kelok pohon besar nan berkabut tebal berbising suara seperti serigala meraung-raung. Menjadikan aku dan nenden berfikir keras dan bulu-bulu tangan berdiri seketika.

            Kami berhenti pada palang bertuliskan hastag “#TLG2”. “huhh, Alhamdulillah sampai”. Kami langsung memutuskan untuk berdiri dari duduk kami selama itu. Kami pun mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar pemandangan disana. Namun yang menjadi keanehan, kami melihat portal kuning menghalangi jalan kami masuk. Kami tidak bisa melihat talaga bodas yang sesuai dengan ekspetasi kami.

            Beberapa menit kemudian, kami merasakan ada hal yang aneh. Angin yang semakin berhembus kencang menandakan ada yang tidak beres. Dengan keberadaan kami disini. Dan tanpa pikir panjang, nenden berkata “sar, pulang yu sar”. Dan tanpa berdiam dahulu akupun menuruti perkataannya dan membelokkan motor kemudian mulai turun.

            Kali ini Nenden mencoba membawa motor. karena aku menampakan wajah lelah serta terlihat biru pada tanganku karena dingin.

Dalam perjalanan pulang, kami tiba-tiba diiringi oleh dua motor yang dinaiki orang bertopi seperti Pak tani dan Bu tani. Namun mereka tidak melengokkan muka sekalipun kearah kami. Padahal kami sangat berisik, kami berbincang sepanjang perjalanan, tertawa bahkan kami menyalakan music dengan volume maksimal saking merinding dan takutnya. Berusaha untuk mencairkan suasana meskipun cuaca itu semakin membekukan.

            Kepuasan itu sepertinya tidak kami dapatkan, namun kami bersyukur bahwa yang namanya kesabaran, keyakinan, keberanian dan keteguhan itu harus kami pegang dimanapun kami berada.

            Dari jauh nampak seorang Pak tani berdiri dan motor yang ter-standar miring. Ketika kami berjalan terus mendekat semakin mendekat, kabut tebal menutupi pandangan kami. Seketika Pak tani menghilang. Motor tetap ada dalam keadaan seperti itu. “ada apa gerangan?” kami sangat heran kesekian kalinya.

            Kami kembali mencoba membawa suasana hati sambil tertawa, merekan moment langka ini dengan video, mendengarkan musik dengan volume maksimal, dan banyak lagi.

            Ditengah perjalanan aku teringat pada bola mata cadanganku. Ya, Kacamataku. Kemana dia? Aku paksa nenden untuk berhenti. Dan untuk kesekian kalinya kami heran. di tempat kami berhenti ramai. Ada truk, Pak tani, Buk tani dan motor racing “2 tak” bersuara keras sedang lewat.

            Aku memeriksa tasku, jaket, kantong, dan segala tempat penyimpanan. Mencoba mengingat benda berharga itu. Nihil. Aku blank. akupun membujuk nenden untuk kembali ke atas, meskipun terasa tak mungkin. Nenden dengan raut muka takut dan yakin akan selamat itu pun mulai memutarkan motor ke arah atas. Aku terus berusaha mengingat dan bertanya pada Allah “dimana kacamataku ya Robb?”.

            Perjalanan panjang itu kini berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bacaan “#TLG2”. Kami mencari dan meraba tanah-tanah yang ada disana. Namun, Nihil. Tak ada tanda-tanda kacamataku berada disana. “hufft” aku mencoba Ikhlas, dan meyakinkan diri bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kami pun kembali meluncur.

            Aku sudah tak lagi peduli dan memikirkan kacamata itu. yang aku fikirkan adalah bagaimana perjalanan pulang aku dari garut sampai jatinangor tanpa bantuan alat melihat itu?. apalagi dengan berkendaraan, berapa banyak lubang yang membahayakan keselamatanku jika aku tak memperhatikannya.

            Secara diam-diam ternyata nenden memperhatikan setiap jalan menurun yang kami lewati. Aku pun tak tahu sebelumnya. Pantas saja ia mengendarai motor dengan lamban. Aku terus berfikir positif, menenangkan diri, berfikir hal lain. Ya, layaknya aku tak disini saat ini.

            Kami melewati beberapa kelok-kelokan jalan. Palang hijau itu kami temukan lagi dan kami melewati sedikit perempatan berkelok lalu berhenti seketika. “sar, itu kacamata kamu” nenden dengan ekspresi santainya. “Apa? Masa? Mana?” aku takut. Aku merasakan ada hal mistis. Aku memperhatikan sekeliling jalan kelok perempatan itu sejenak sebelum memperhatikan apa yang ditunjuk oleh nenden. Terlihat saung-saung yang terbuka, terdapat pajangan sachet minuman. Namun keanehannya adalah tak ada orang satupun. Aku memutar pandanganku dan yang ku lihat hanyalah kabut tebal ditambah dengan mataku yang cacat. Hanya 1 meter jarak kejelasan pandangku.

            Aku memberanikan diri untuk melengok dan turun dari motor. Aku melihat kacamatku dari jarak 1 meter itu. aku tak langsung mengambilnya. Aku memperhatikan sejenak dan memandangnya penuh harap seakan tak percaya bahwa yang aku lihat adalah kacamataku. “ambil sar” nenden tergesa. Kabut semakin tebal. Angin semakin dingin. Dan aku, masih tak percaya akan semua kejadian hari ini.

            Kacamata itu terletak pada tanah dan bebatuan yang teratur, tidak terbalik, tidak terbuka, tidak cacat apapun. Seperti ada tangan yang meletakan disana. Sungguh sangat mengherankan.

            Kami kembali melakukan perjalanan pulang dan aku menggenggam erat kacamataku. Berfikir keras, menerawang dalam-dalam, bahkan sesekali melamun. Sepanjang perjalanan nenden berbicara, dan jujur saja aku tak menyimak. Karena kacamataku telah membuat fikiranku melayang-layang terbang.

Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu 30 menit. Betapa kami tidak sangat heran. Banyak pemandangan yang tak kami temukan ketika pulang. Kemana jalan panjang yang kami lewati di awal perjalanan? Kemana jalan kelok-kelok nan penuh kabut itu? kemana kebun-kebun indah, rumah-rumah tak berpenghuni, saung-saung kosong, dan tanaman-tanaman indah itu?

            Fikiran kami diselimuti kabut tebal, kepala kami telah dikuasai gunung, dan kaki kami kaku pada belokan patah jalan menurun itu. kami memutuskan untuk berhenti dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara puas. Satu-satunya jalan kelok yang kami lihat pada saat pulang dan pergi ya hanya ini. Kami heran. Namun kami selimuti itu semua dengan mencoba mengabadikan diri kami dengan jalan ini.

            Nenden mulai bertingkah aneh. Mengenakan jas hujan dan mulai berpose. Akupun mulai mengambil potret pemandangan gunung dan  sawah yang terliat dari jauh seperti pelangi. Kami narsis bersama, selfie bersama dan menarik nafas panjang bersama. Memastikan apakah masih terdapat kabut atau tidak.

            Senyuman mulai terpoles, terik matahari mulai menyengat menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Melepaskan urat-urat yang tegang memang bukan perkara mudah. Dan kami bisa melakukan nya setelah kabut itu pergi.

            Selanjutnya kami melakukan perjalanan kembali dan melewati berbagai jenis jalan. Menurun, berkelok, bebatuan, berlubang dan masih banyak lagi.

            Yang kami heran, ketika kami turun rasanya cepat sekali kami sampai pada ujung jalan. Mungkin karena jalannya yang menurun jadi tidak terasa. Namun ada beberapa hal yang terbesit dalamm fikiran kami. Dan kami terus terdiam sampai pada rumah Nenden di Banyuresmi, Garut.

            Keanehan itu membuat kami banyak bengong, dan menerawang jauh ke bukit dan gunung-gunung berkabut. Kami tersadar, dan kemudian mencoba mengambil air wudhu dan sholat. Karena hanya itu yang bisa membuat kami tenang.

Alhamdulillah, kuasaMu memang tak ada batasnya. Pantas saja seorang hamba wajib bersyukur sampai akhir hayatnya dan tanpa perhitungan kesyukuran. Apapun yang terjadi kemaha agunganMu lah yang maha tinggi setinggi tingginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s