Kau berikan aku yang terbaik. Kau sembunyikan sesuatu yang akan membuatku sedih. Kau kabarkan kebahagiaan yang aku tak tahu bahwa sesungguhnya suatu kesedihan mendalam tersimpan dalam hatimu. Kau jadikan aku seorang anak yang hebat, mandiri, dan berprestasi.

Ayah, kau adalah pahlawan ku. Pahlawan ku dalam keadaan apapun. Kau tak sanggup melihat ku menitihkan air mata. Kau tersenyum penuh keikhlasan ketika melihatku bahagia. Rasanya, tak sanggup jika aku harus melihatmu pergi. Betapa khawatirnya diriku jika kau pergi untuk jangka waktu yang lama. Anakmu takut jika kau nanti pergi tak kembali.

Rasanya sakit jika harus mendengar kabar yang tak seharusnya tersampaikan oleh seorang adik. Tidak sepantasnya aku mendapat kabar yang seharusnya aku dapat dari mulut ayahku. Sejuta fikiran menghantui kepala ku. Ribuan bulir air mata berjatuhan mulai menyentuh jilbab dan pipiku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku terdiam. Aku bisu dan selintas fikiranku mulai kosong tanpaNya.

Ibu, jasamu tak pernah bisa aku balas. Aku mengerti. Seorang Ibu tidak pernah meminta anaknya untuk membalas budi Ibunya. Betapa kebahagiaan itu hadir ketika si anak bisa dewasa. Tersenyum dan sukses.

Layaknya sosok Siti Khodijah, Ibu sejati kepada anak-anaknya. Sungguh sulit meng-ibaratkan dirimu wahai ibuku. Karena kaulah insan terpenting dalam hidupku. Tak pernah berkurangnya rasa cintamu padaku. Do’amu selalu sampai padaku. Sayangmu tiada tara dan batas. Aku mencintaimu dengan tulus sebagai anak kepada Ibunya.

Aku tahu, aku jauh dari kata sempurna. Menyayangimu, mencintaimu, menyukaimu,  menghargaimu, menghormati, bersikap sopan dan berbakti padamu. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Anakmu yang tak tahu terimakasih. Anakmu yang belum bisa menuruti semua inginmu. Anakmu yang tak tahu malu. Yang hanya bisa meminta dan meminta.

Aku tahu sifat kalian kepadaku layaknya daun yang jatuh tapi tidak pernah membenci angin. Walaupun angin terus berhembus, menjatuhkan daun, menggugurkannya, menerbangkannya jauh dan meletakan nya di tempat terasing. Daun tetap akan menjadi daun. Yang tak pernah membenci angin.

Bagiku, kau adalah sahabat ketika dirumah dan pacar ketika jauh. Perhatianmu sungguh membuatku menambah kecintaanku padaNya. Dan ketika kau tak lagi seperti pacar ketika kita jauh. Akupun merindukanmu. Sangat merindukanmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s