IMG-20160823-WA0001

Teruntuk Mbah Putriku yang cantik yang akan terus muda selamanya, semoga kau bahagia disana dan selalu tersenyum melihat cucumu tumbuh besar. Aku biasa memanggilnya Mbah Uti. Mbah Uti selalu baik kepada semua cucunya. Aku ingat kami pernah tinggal bersama. Tetapi, aku lupa berapa lama. Aku tak peduli seberapa lama aku tinggal bersamanya. Aku hanya ingat rasa bahagia pernah tinggal bersamanya.

Hai Mbah Uti, apa kabarmu di Surga? Sedang apakah dirimu? Semoga kau senang membaca suratku ini. Aku ingin mengabarkan beberapa kabar gembira padamu. Cucumu telah menikah dan telah lulus dengan nilai A. Cucumu tahun ini sedang berbahagia dan semoga akan selamanya sampai aku menyusulmu di sana. Cucumu rindu padamu, sangat teramat rindu. Senyummu, tawamu, sampai tangis bahagiamu sangat ku ingat dan terekam selalu dalam ingatanku.

Aku ingat setiap aku main ke rumah Mbah Uti, Mbah selalu menyuguhkan teh manis hangat yang sangat aku suka rasanya. Mbah Uti selalu memberikan sebungkus permen yang setelah diberikan selalu dilarang oleh umiku. aku pernah tinggal dengan Mbah Uti dan Mbah Kung saat kelas 3 SD, aku tidak merasakan kesengsaraan sedikitpun. Aku pernah tinggal bersama Mbah Uti dan Mbah Kung, Bude Eli dan Mas Fajar, Pale Ari dan Pale Muji, Bule Gadis. Menurutku beberapa bulan itu sangat bermakna. Setiap Mbah uti memanggil diriku pasti ada sesuatu yang ingin diberikan atau ditunjukkan. Mbah Uti selalu menunjuk alfabet yang sampai saat ini masih ku ingat. Kami berpuasa bersama, aku serasa punya banyak ayah. Pernah saat itu kami sedang menunggu adzan lengkap sudah menggenggam gelas berisikan teh manis hangat jadi ketika adzan tiba langsung minuman itu kami teguk. Ketika adzan di stasiun tvri itu datang beberapa dari kami langsung meneguknya sekali. Ternyata tvri menayangkan adzan wilayah bandung yang kebetulan lima menit lebih awal dari jakarta. Sontak beberapa dari kami langsung memuntahkan lagi dan ada juga yang menelan karena sudah terlanjur. Serentak kami tertawa bersama-sama. Memori yang tak terlupa sampai kapanpun.

Aku ingat ketika Mbah Uti sakit, betapa sabarnya Mbah menghadapi stroke itu. Sebelah kanan kemudian kiri kemudian keduanya dan begitu seterusnya sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu. Perjuanganmu mendidik anak-anakmu sampai mereka memiliki beberapa anak begitu luar biasa.

Kini tak lagi seperti dulu, seperti saat kau ada di sisi kami. Banyak yang telah berubah. Banyak yang sudah berbeda. Kini kau memiliki banyak cucu dan satu persatu cucumu telah menemukan pendampingnya. Bahkan sudah memiliki anak-anak yang lucu.

Semoga Mbah Uti membaca ceritaku ini. salam dari kami para cucumu yang selalu menyayangimu sampai kapanpun. Salam sayang dari anak-anakmu yang tengah berjuang membesarkan anak-anaknya demi membahagiakan keluarga. Semoga kami tetap satu. Satu keluarga yang utuh. Meskipun kami berbeda-beda. Semoga kami tetap bisa tersenyum dan tertawa bersama. Rinduku tetap sama. Sampai kapanpun rindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s